Tuesday, September 11, 2007

Theatre In New York Schedules

AMERICAN SLIGO Adam Rapp (“Red Light Winter”) wrote and directs this dark comedy, about a wrestling legend on the eve of his last match. In previews. (Rattlestick, 224 Waverly Pl. 212-868-4444.)
BASIL TWIST’S “DOGUGAESHI” The puppeteer employs the Japanese puppet-theatre art that uses a sliding-screen mechanism, portraying the tale of a sly white fox. Opens Sept. 12. (Japan Society, 333 E. 47th St. 212-715-1258.)
BLIND MOUTH SINGING National Asian American Theatre Company presents Jorge Ignacio Cortiñas’s play, about a strict matriarch and her children. Ruben Polendo directs. Previews begin Sept. 14. (Baruch Performing Arts Center, 55 Lexington Ave. 212-279-4200.)
CELIA Carmen Rivera and Candido Tirado wrote this musical based on the life of the late Cuban singer Celia Cruz. Jaime Azpilicueta directs. Performances on Saturdays at 5 and Sundays at 7 are in English; all other performances are in Spanish. In previews. (New World Stages, 340 W. 50th St. 212-239-6200.)
THE DINING ROOM The Keen Company opens its season with A. R. Gurney’s drama, a series of vignettes about a twentieth-century Wasp family. Jonathan Silverstein directs. In previews. (Clurman, 410 W. 42nd St. 212-279-4200.)
DIVIDING THE ESTATE Primary Stages presents the New York première of this comedy by Horton Foote, set in the late nineteen-eighties, in which a Texan family contemplates its fate. Previews begin Sept. 18. (59E59, at 59 E. 59th St. 212-279-4200.)
FLAGS Jane Martin wrote this drama, about a family who lost a son to the Iraq war. Henry Wishcamper directs. In previews. Opens Sept. 15. (59E59, at 59 E. 59th St. 212-279-4200.)
HAMLET At the Pearl, Shepard Sobel directs Shakespeare’s tragedy. In previews. (80 St. Marks Pl. 212-598-9802.)
100 SAINTS YOU SHOULD KNOW Playwrights Horizons kicks off the season with the world première of a play by Kate Fodor, about a woman who becomes intrigued by a troubled priest at the church that she cleans. Janel Moloney, Lois Smith, Jeremy Shamos, Will Rogers, and Zoe Kazan star. Ethan McSweeny directs. In previews. Opens Sept. 18. (416 W. 42nd St. 212-279-4200.)
THE MAGNIFICENT CUCKOLD East River Commedia presents this 1920 farce by Fernand Crommelynck, in which a man is so paranoid that his wife might cheat on him that he forces her to do so with all the men in the village. Preview on Sept. 14. Opens Sept. 15. (Connelly, 220 E. 4th St. 212-868-4444.)
MAURITIUS Alison Pill, F. Murray Abraham, Dylan Baker, Katie Finneran, and Bobby Cannavale star in Manhattan Theatre Club’s production of a drama by Theresa Rebeck, about half sisters who inherit a stamp collection. Doug Hughes directs. Previews begin Sept. 13. (Biltmore, 261 W. 47th St. 212-239-6200.)
THE MISANTHROPE New York Theatre Workshop presents Molière’s comedy, directed by Ivo van Hove. Previews begin Sept. 14. (79 E. 4th St. 212-239-6200.)
NEW YORK MUSICAL THEATRE FESTIVAL More than thirty new musicals, at various venues. For a full schedule, visit www.nymf.org. Opens Sept. 17. (212-352-3101.)
THE POWER OF DARKNESS Mint Theatre Company revives Leo Tolstoy’s drama from 1886, about a Russian peasant who becomes involved in a murder. In previews. (311 W. 43rd St. 212-315-0231.)
THE RITZ Roundabout Theatre Company revives Terrence McNally’s 1975 comedy, starring Rosie Perez and Kevin Chamberlin, in which a heterosexual man hides out from a mobster in a gay bathhouse. Joe Mantello directs. Previews begin Sept. 14. (Studio 54, at 254 W. 54th St. 212-719-1300.)
ROCK DOVES The première of a drama by Marie Jones, set in postwar Northern Ireland. Ian McElhinney directs. In previews. Opens Sept. 16. (Irish Arts Center, 553 W. 51st St. 212-868-4444.)
SCARCITY Atlantic Theatre Company presents the première of a new play by Lucy Thurber, about siblings longing to escape their life of poverty. In previews. (336 W. 20th St. 212-279-4200.)
THE SHAPE OF METAL Origin Theatre Company presents Thomas Kilroy’s drama, in which a sculptor copes with the disappearance of her daughter. Brian Murray directs. Opens Sept. 12. (59E59, at 59 E. 59th St. 212-279-4200.)
THREE MO’ TENORS This musical revue, conceived, directed, and choreographed by Marion J. Caffey, combines opera, blues, jazz, soul, and other genres. In previews. (Little Shubert Theatre, 422 W. 42nd St. 212-239-6200.)
TILL THE BREAK OF DAWN Danny Hoch’s new hip-hop play, about a group of South Bronx radicals who take a trip to Havana, Cuba. In previews. Opens Sept. 13. (Abrons Arts Center, 466 Grand St. 212-352-3101.)
For further Information Click http://www.newyorker.com/

Wednesday, September 5, 2007

Adiyaksa Dault, MENPORA RI, di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung

Adiyaksa Dault Berikan Penghargaan Kepada Iwan Abdurahman Adiyaksa Dault, Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, memberikan penghargaan kepada Iwan Abdurahman karena pengabdiannya kepada bangsa dan Negara Republik Indonesia. Hal itu disampaikan Adiyaksa Dault pada perayaan “Tepung Taun ka 60 Taun” kemarin malam (3/9) di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung. Penghargaan itu dinilai sebagai bukti nyata pengabdian Iwan Abdurahman kepada masyarakat dan bangsa Indonesia, karena dengan karya-karya musiknya generasi muda bangsa ini berbangga hati menjadi bangsa Indonesia yang bersatu teguh, bersemangat memajukan bangsa Indonesia.
Pada momen “Tepung Taun ka 60 Taun” itulah Adiyaksa Dault berkesempatan menyampaikan amanat bangsa kepada masyarakat dan tokoh-tokoh Indonesia untuk tetap bersatu sebagai bangsa Indonesia, mempertahankan kedaulatan negara dengan mencipta dan berbagi kepada sesama untuk keutuhan bangsa Indonesia. “Saya, Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, sudah mengajukan usul kepada Bapak Presiden Republik Indonesia untuk memberikan Piagam Penghargaan Satya Lencana Wirakarya kepada Norman Edwin dan Iwan Abdurahman karena karyanya untuk masyarakat dan bangsa Indonesia,” kata Adiyaksa dalam sambutannya dan sekaligus memberikan penghargaan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia kepada Iwan Abdurahman. “Mungkin orang seperti saya berbakti kepada bangsa ini karena jabatan, tetapi Iwan Abdurahman adalah orang yang berbakti karena hakikat,” lanjut Adiyaksa Dault.
Dalam kesempatan itu pula Adiyaksa Dault diperkenankan untuk menyanyikan salah satu karya Iwan Abdurahman. Maka, Adiyaksa Dault pun menyanyikan lagu yang berjudul “Flamboyan” dengan suara yang cukup mengesankan Iwan Abdurahman dan massyarakat yang mengahdiri perayaan “Tepung Taun ka 60 Taun Iwan Abdurahman”. Acara yang digelar oleh komunitas Rumah Nusantara, Bandung, itu dihadiri pula oleh sejumlah tokoh penting Jawa Barat dan Nasional, antara lain Dany Setiawan (Gubernur Jawa Barat), Lex Laksmana (Sekretaris Daerah Jawa Barat), Tjetje Padmadinata, sesepuh Wanadri, Putu Wijaya, Acil Bimbo, Aom Kusman, Rudi Jamil, Purnawirawan Jenderal Syamsudin, dan tokoh lainnya serta masyarakat Bandung, Jawa Barat, juga artis lainnya.
Perhelatan budaya yang bertajuk ulah tahun itu dimeriahkan oleh penampilan musisi dan seniman Bandung, satu per satu membawakan lagu karya Iwan Abdurahman. Tetty Kadi membawakan lagu “Melati dari Jayagiri” bersama anak-anaknya dalam kelompok Numata. Nugi, Duta Lingkungan Hidup Indonesia, juga hadir membawakan lagu yang berjudul “Akar” bersama kawannya, Leo. Musisi lainnya yang menyumbangkan keahliannya di dunia musik adalah, Mukti-Mukti bersama Jatiwangi Art Factory featuring Windi CCF, Ami Violin, Acil Bimbo, Ari Julian, Risal Homogenik, Ferry Curtis, Marta Topeng, Aswin Sani, Aom Kusman, Purnawirawan Jend. Syamsudin, Swara Handaru, Patria, Swara Kania (Darma Wanita Kota Bandung), dan lain. (Argus Firmansah/Free lance Journalist Bandung/Kontributor Lepas Jurnal Nasional - Koktail)

Monday, September 3, 2007

Lear Asia Versi Tafsir Teater Bandung

Pentas Lear Asia: Ode to King of Asia
Cahaya putih kekuning-kuningan disorotkan pada layar di belakang panggung hingga membentuk matahari, dewa matahari, yang diyakini masyarakat Jepang sebagai Yang Suci. Nampak berdiri seorang raja yang kelelahan membopong kain, simbol bayi, di atas pentas. Aktor-aktris meletakan lilin-lilin di beberapa sudut pentas. Suasana hening mengantarkan imajinasi penonton pada sebuah istana kerajaan Jepang. Suara angin semilir, air menetes dan rerumputan yang bergoyang menjadikan pentas sebuah pentas puitis. Sebuah ritual masyarakat Jepang direpresentasikan secara sederhana di pentas.
Nampak aktor dan aktris menyembah dewa matahari. Kemudian aktris-aktris dalam pentas Lear Asia menari dalam irama kehampaan, pada Minggu malam kemarin (26/8) di Gedung Patandjala, STSI Bandung. Sebuah garapan pendek berdurasi 60 menit itu digelar dalam rangka merayakan ulang tahun Jurusan Teater STSI Bandung yang ke 29 tahun. Para aktor/aktris yang berperan dalam pentas Lear Asia adalah Toni Broer, Yani Mae, Retni Dwimarwati, Gina Sufana, Asri Puspita, Tavip, Elly Martini, Apip, Ridwansyah GG, dengan sutradara Ismet Majalaya. Piñata Lampu Yadi Mulyadi, Penata Rias Adam Panji.
Sebuah pertunjukan teater karya Rio Kishida, Jepang, merupakan tafsir lakon King Lear karya William Shakespeare yang diproduksi oleh Japan Foundation dalam pentas kolaborasi teater “Lear Versi Asia” oleh aktor-aktris dari 6 negara. Pentas kolaborasi itu disutradarai oleh seniman muda asal Singapura, Ong Keng Sen. Dengan misi kebudayaan membaca kembali Asia dalam pergulatan historisnya pada saat ini.
Alkisah, seorang raja Asia, Lear Asia, berpulang dari kemenangan perang di medan laga. Suasana hening dan hampa membuatnya bertanya-tanya. Terlebih karena Lear mengalami amnesia sementara. Dia lupa pada keluarganya, terutama pada anaknya. Dia masuk ke dalam istana dan ditemukan anak sulungnya membisu. Datanglah seorang badut pada Lear. Badut itu ceritakan pada Lear keadaan istana selama dia tidak berada di sana. Anak bungsu Lear membisu sejak kepergian Lear berperang. Tampuk kekuasaan rentan dan ringkih di ujung tanduk keruntuhannya. “Kau adalah raja,” ujar Badut pada Lear. “Apa itu raja?” sahut Lear. Raja adalah kekuasaan, kata putri sulungnya.
Saat itu Lear mencium penghianatan putri sulung pada dirinya dalam keterasingannya. Keadaan di istana dijelaskan oleh Badut kepada Lear. Pada situasi ituLear hanya ditemani tokoh Badut Kata-Kata. “Tuan, aku adalah seorang Badut Kata-kata. Menjadi kunci bagi semua orang istana. Kunci selalu dibutuhkan untuk membuka pintu ini atau itu,” kata Badut seraya mendekati Lear untuk merayunya.
Badut membuat perjanjian, bilamana benar penghianatan putri sulung di istana, maka Badut minta dijadikan raja barang sehari saja. Namun Lear menolaknya. “Belum ada sejarahnya seorang Badut berdiri di singgasana,” sahut Lear. Mereka berdua kembali ke istana untuk memastikan keselamatan putri bungsunya, sebuah harapan terakhir bagi seorang ayah. Kepulangan Lear ke istana hanya bertumpu pada anak-anaknya. Harapan terakhir pada sebuah eksistensi seorang raja yang sudah berusia lanjut. Dan rupanya benar keterangan Badut, penghianatan putri sulungnya dibuktikan dengan kekuasaan putri sulungnya. Badut memenangkan taruhannya dan ia menagih janji tahta seharinya. Namun apa yang terjadi, Lear diusir oleh putri sulung dan orang-orang terdekatputrinya. Maka ia pun jatuh pada titik nadir kehampaan hidupnya. Semua meninggalkannya, kecuali si Badut Kata-kata. Kehampaan dan kekosongan mendera jiwanya yang telah lunglai dimakan usia. Kekausaannya sebagai raja telah dirampas oleh putrinya sendiri.
“Jaman telah berubah….Aku akan mengenang kejayaanku,” decak Lear sambil melangkah ke luar istana. “Rembulan menyinari belantara sunyi. Aku melangkah….kakiku rapuh,” katanya meski tanpa air mata. “kau jangan bersedih. Masih ada hari esok,” kata Badut yang terus mengikuti Lear kemanapun dia pergi. “Badai….angiiiiiiin….topan…..masih adakah hari esok ketika badai menerpa rerumputan,” decak Lear dalam kebingungan dan kelelahan. Lear memutuskan untuk kembali merebut kekuasaannya setelah berkelana di hamparan luas, di puncak bukit yang sunyi berteman angina kencang.
Kesedihan menyelimuti keluarga Lear ketika itu. Putri bungsu Lear yang selama ini membisu akhirnya mengucapkan kata-kata. Kata-kata yang menjadi simbol kekuasaan. “Jangan sakiti ayah…jangan ganggu dia,” ujar putri bungsu sebelum tubuhnya dihunus pedang oleh kakak kandungnya sendiri. Ia teringat masa kecilnya yang selalu diajarinya bersenandung. Puisi malam yang seoralh bicara dengan keindahan malam di amana cahaya bulan berpendar terangi malam-malam. “Selamatkan ayahku!” sahut putri bungsu, kemudian pedang menghunus tubuhnya hingga ajal menjemputnya. Kakak kandung yang membunuh adiknya sendiri dirapai kegilaan dan ambisi pesakitan. Sebuah balas dendam dan rasa benci pada ayahnya ia bayarkan dengan membunuh putri kesayangan sang ayah.
Lear hanya dapat meratapi tubuh putri kesayangannya. Tak ada harapan, karena putri bungsu kesayangannya juga turut menjadi ambisi kakaknya yang haus tahta. Galaulah hatinya, tak tentu rasa, dan tak tahu apa yang bisa dilakukan lagi. “Aku bisa mendengar kesenangan di dalam dadaku. Aku akan hidup meninggalkan anakku,” ucap Lear menggila di sana. Saat itulah puncak kengerian bencana terjadi. Putri sulung Lear kembali mencabut pedang dan menghunuskannya ke tubuh Lear yang telah lemah dimakan usia, namun Badut menghalanginya hingga ia pun tewas. Dan pedang itu kembali diangkatnya hingga membunuh Lear, ayah kandungnya sendiri. Tak lama setelah pembunuhan sang ayah dilakukan, putri sulungnya melakukan hara kiri, bunuh diri, setelah merasa puas menjadi hakim dalam keluarga besar Lear.
Lear Asia karya Ismet diakhiri dengan kemenangan sementara perempuan, atas nama jender perempuan. Hipotesa teks pertunjukan yang muncul kemudian adalah kemenangan sementara kaum perempuan. Dan pembunuhan karakter laki-laki dengan terbunuhnya Lear. Tidak hanya itu, Ismet juga mengambil tesis Lear Asia Rio Kishida ke dalam garapannya, yaitu pembacaan kembali atas konteks antropologis masyarakat Asia, ketimuran, bahwa sistem patriarkis di Timur yang ditelisiknya masih dominant di beberapa wilayah budaya.
***
Apabila kita lihat perbandingan subteks dalam naskah “King Lear” Shakespeare dan Lear Asia karya Rio Kishida, masih terdapat kesamaan tematik. Yaitu kekuasaan monarki di Inggris. Dalam kisah itu kerajaan Lear terbagi antara ambisi putri sulung Lear, dan kesetiaan putri bungsu. Putri sulungnya telah diracuni rasa kebencian kepada ayahnya, Lear. Lear meminta putri bungsunya yang sangat disayanginya, agar menolak penghianatan kakaknya yang telah durhaka pada Lear. Karena Lear mengetahui penghianatan putri sulungnya setelah Lear meninggalkan istana. Kisah itu adalah sebuah wacana hubungan kekeluargaan, antara ayah dan anak kandungnya. Menceritakan bagaimana seseorang yang sudah tua, berbeda jaman, tersisihkan oleh perubahan anak muda yang egosentrik, dan dominasi terhadap yang lain. Sebuah kebudayaan hirarkis di dalam sebuah keluarga, balas dendam, kebencian terhadap figur seseorang.
Naskah tersebut ditulis pada jaman kekuasaan monarki menjadi bagian krusial dari sebuah hirarki. Yang kemudian mengacaukan peralihan kekuasaan, spiritual, manusia, binatang, dan benda duniawi. Pada akhirnya putri sulung Lear bunuh diri. Meskipun Lear sudah meninggal, kekuasaan monarki terus berlanjut dengan kekuasaan laki-laki, dan sistem patriarki menjadi aturan.
Rio Kishida, Experimental Theatre Laboratory Tenjo-Sjiki, menambahkan sudut pandang perempuan dalam pementasan Lear Asia. Termasuk sosok ibu yang tidak dihadirkan pada naskah asli Shakespeare, dapat dilihat sebagai langkah menjembatani konsep posisi sentral seorang ibu pada masyarakat Asia, juga tren masalah jender. Lear Asia dibuat dengan metode adaptasi dan tafsir terhadap naskah “King Lear” Shakespeare.
Lear Asia yang digarap oleh Ismet Majalaya masih mengusung tema-tema kontemporer dan adaptasi kultur Asia pada pementasannya. Itu dapat dilihat dari dominasi pemain perempuan ketimbang laki-laki. Masalah jender menjadi isu hangat dalam perdebatan subteks pertunjukannya. Meski pementasan menjadi pendek, terjadi pemadatan struktur lakon, namun garapan Ismet masih berada di koridor tema yang sama, kekuasaan dan hirarki kekuasaannya. Konteks kultur dalam pementasan Lear Asia memang menjadi asing dari teks asli King Lear-nya William Shakespeare. Karena Lear yang digarap oleh Rio Kishida maupun Ismet mengambil akar kultur Asia kontemporer. Terlepas dari sistem monarki kerajaan Jepang maupun Inggris yang menjadi inspirasi politik kebudayaan dalam naskah pertunjukan Lear. Pementasan Lear Asia lebih menukik pada persoalan bagaimana membaca kondisi jaman yang sudah berubah. Namun demikian, karya seni bukan ruang untuk menemukan konklusi jalan keluar dari persoalan yang sedang terjadi, pementasan Lear Asia hanya menjadi representasi dari kondisi sosial.
Subteks yang bicara soal berakhirnya suatu kekuasaan absolut di titik kematian dalam Lear Asia nampak sebagai sebuah representasi konteks sosio-politik kekuasaan pemimpin lembaga penyelenggara ulang tahun Jurusan Teater yang ke-29 itu. Disadari atau tidak wacana itu muncul secara implisit terkait dengan masa akhir jabatan Ketua STSI Bandung. Pikiran yang sama juga dapat berbunyi sama makna (Equevokal) bila dikontekskan dengan seornag pemimpin yang akan lengser di kemudian hari. Membahas wilayah keaktoran. Para aktor dan aktris yang berperan dalam pentas Lear Asia di STSI Bandung ini dapat dikatakan cukup serius, meski terkesan kurang maksimal dalam eksplorasi perannya. Karena sebagian yang bermain adalah staf pengajar Jurusan Teater STSI Bandung.
Teater adalah karya yang membutuhkan proses kreatif yang intens dan kontinyu. Namun pada pementasan Lear Asia itu beberapa dosen masih nampak tidak maksimal dalam penampilannya. Hakim pentas, penonton, tidak melihat sosok panutan bagi mahasiswa yang hadir dalam pementasan tersebut. Misalnya, salah pengucapan dialog, atau pemeliharaan karakter tokoh lakon di pentas. Siapapun yang bermain teater, ia harus melewati proses latihan dan pengolahan kreatif yang intens dan kontinyu. Sehingga, kesalahan pentas yang berupa hal teknis dapat dieliminir sesegera mungkin sebelum pementasan. (Argus Firmansah/Kontributor lepas Koktail - Jurnal Nasional)

Kelurahan Cinta versi Laskar Panggung Bandung di STSI Bandung

Pentas Pasang-Pasangan Manusia di Kelurahan Cinta

Seorang suami dengan dua istrinya masuk ke pentas dan menari-nari, sesekali bergerak kaku dengan pakaian ala seniman. Nampaknya memang sutradara teater, Yusef Muldiyana bermaksud menyimbolkan kehidupan seniman yang selalu bergerak dengan tampilan compang-samping, disertai bahasa yang tidak dimenegrti oleh orang lain. Dan mereka tampak bahagia dengan begitu. Lampu meredup, hingga sedikit cahaya saja yang masuk ke pentas, sebuah fragmen film independepn mengisi ruang pentas di mana seorang istri menggantung diri setelah mondar-mandir dalam keputus-asaannya. Mereka yang bermain peran dalam garapan Laskar Panggung Bandung adalah: Kemal, Ria, Ucan, Feby, Ani, Arya, Tuti, Vira, Nineu, Gigi, Dona, Niki, Yopie, Niki Nugraha, Surya, Tomi, Arfan, Ndang, Usman, Babas, Yoyo, Alvin (lighting), Katho, Lukman, Azrin, Andrevo.

Terkesan mengerikan memang. Adegan pertama diawali dengan pemutaran frgamen film layaknya berita kriminal di televisi. Suasana dramatis itu dicairkan dengan suara nyanyian para ibu-ibu muda dan pelajar sekolah yang liriknya berbunyi, “Rame…rame…tidak sekolah….marilah kita bodoh bersama….Rame…rame…malas bekerja…..masrilah kita miskin bersama….” Penonton pun tertawa sembunyi-sembunyi mendengar seruan koor di samping panggung dengan setting vocal group itu.

Babak kedua narator dalam rupa master of ceremony memperkenalkan pasangan-pasangan yang hidup bermasyarakat di Kelurahan Cinta. Penonton tertawa terbahak ketika satu per satu memperkenalkan diri. Semua keluarga beristri lebih dari satu, kecuali Ikin yang beristri satu sebagai tukang cukur dan Euis pulen yang dipanggil Islen yang bersuami dua. Alkisah, Euis adalah wanita banal yang sering digerayami oleh pemuda dan suami-suami di Kelurahan Cinta. Tubuhnya yang seksi kontan membuat lelaki sekelurahan bernafsu padanya.

Pagi hari, setelah ayam berkokok, istri-istri rumahan membangunkan suami mereka untuk pergi mencari uang. Namun jawaban mereka saat dibangunkan selalu minta tenggang waktu sepuluh menit, setelah itu mereka baru mau bekerja mencari nafkah. Hari itu akan dilaksanakan Pilkada, pemilihan Lurah baru. Karena Lurah yang lama sakit menahun dengan jenis penyakit yang sangat parah dan susah untuk meu sembuh. Satu per satu para calon berorasi dengan rekaman video yang ditayangkan pada layar di belakang panggung. Uniknya di sana, semua calon menawarkan konsep-konsep yang menjerat masyarakat. Ada yang memang berniat menyengsarakan rakyat dengan korupsi, memeras, dan lain-lain. Kata kunci pidato mereka hampir semua sama. “Awas…Jangan pilih saya…Jangan Pilih Saya!!”

Tenang saja. Kampanye politik yang tidak lazim itu hanya ada di pentas teater musikal saja. Nama-nama partai pun terdengar unik dan plesetan, sebuat saja Partai Awal Nasional, Partai Asmara; singkatan dari Partai Aspirasi Masyarakat Ramai, Partai Kebra; Partai Kesejahteraan Para Koruptor. “Jangan Pilih Saya!! Ingat Itu!!” itulah moto mereka. Malam pun datang menjelang. Penonton disajikan adegan tempat perjudian. Pak Daramang kalah judi, sehingga pakaiannya harus ditanggalkan untuk membayar kekalahannya. Pulang ke rumah pun berbohong pada istri dengan mengaku bahwa pakaiannya disumbangkan kepada orang yang tidak mampu. Padahal sudah jelas dia kalah judi. Karena terdesak kebutuhan finansial keluarganya, istri Daramang meminjam uang kepada tetangga untuk membayar uang sekolah anak-anaknya. Daramang pun protes. “Kenapa pinjam uang ke tetangga? Dari mana kita membayar uang pinjaman itu,” ujar Daramang kesal pada istri.

Lain halnya dengan Ikin, si tukang cukur yang selalu bersuara kuda setelah namanya dipanggil istri kesayangannya. Ia bermimpi menjadi bintang film. Lampu di pentas kembali diredupkan. Sebuah fragmen film pendek karya Laskar Panggung Bandung ditayangkan. Dalam film itu Ikin berperan sebagai anak sedang memetik gitar membawakan lagu Iwan Fals yang berjudul “Ibu”. Namun yang menjadi bahan tertawaan penonton adalah peran Ikin dalam film itu sebagai pencuri. Peran itu disebabkan oleh tuduhan ibunya (dalam film) ketika memetik gitar handphone-nya berdering. Setelah ia menutup panggilan telepon dari kawannya, Sang Ibu merasa heran dari mana anaknya punya barang itu padahal belum pernah ibu dan bapaknya memberi uang lebih untuk membeli barang seperti itu.

Adegan kembali menyajikan Daramang. Setelah kalah judi dan pusing memikirkan bagaimana membayar uang yang dipinjam istrinya dari tetangga, Daramang berselingkuh dengan Euis. Hingga dikisahkan Euis hamil. Kedua sumi Euis pun bingung, itu anak siapa. ”Itu anak saya atau dia?” ujar suami Euis saling tunjuk satu sama lain.

Teman-teman Daramang yang suka main judi bersama Daramang melihat Melati, istri Daramang pergi dengan lelaki lain. Tentu saja informasi itu disampaikan kepada Daramang ketika main judi. Perselisihan pun terjadi. Kekerasan dalam rumah tangga divisualkan dengan adegan pembunuhan Daramang oleh istrinya. “Sudah berapa wanita kau tiduri, Daramang?” Tanya Melati kepada suaminya sambil teriak kesal. “Seribu!” jawab Daramang, lalu balik bertanya, “Sudah berapa laki-laki yang menidurimu, Melati?” Dan Melati menjawab, “Seratus!” “Gila.” Sahut Daramang. Perselisihan pun berlanjut dengan perkelahian. Akhirnya, Daramang ditusuk dengan pisau dapur oleh istrinya. Karena takut juga istri Daramang menusukan pisau itu ke tubuhnya hingga ia pun mati.

Kabar terpilihnya Lurah baru diumumkan. Pemenangnya adalah Cep Durasim. Kontan Durasim marah-marah dan kecewa dengan hasil pemilihan Lurah itu. Padahal, “Saya kan sudah katakana…Jangan Pilih Saya!! Jangan Pilih Saya!!” katanya. Durasim menolak terpilih jadi Lurah, namun warga Kelurahan Cinta menyetujui hasil pemilihan tersebut. Karena tidak menolak jabatan maka Durasim melakukan hara-kiri alias bunuh diri. Kemudian bayi-bayi lahir tanpa ibu kandung mereka. Suasana tragedi kembali terasa. Suasana pentas menjadi chaos, kacau balau. Orang-orang berlarian ke sana kemari seperti diguncang gempa bumi yang dahsyat. Pementasan pun berakhir demikian.

***

Sebuah pementasan cantik dan menarik digelar oleh kelompok Laskar Panggung Bandung. Pementasan yang melibatkan aktor dan aktris pemula dari pelajar SLTP hingga mahasiswa itu mampu disajikan dengan cukup apik pada Sabtu malam (25) kemarin di Gedung Patandjala, STSI Bandung. Pentas teater yang disisipi dengan adegan film independen produksi Laskar Panggung Bandung berjudul “Rumah Dalam Kepala Kuda Atau Kelurahan Cinta”.

Pentas teater garapan Laskar Panggung Bandung malam itu berkisah tentang kehidupan pasangan-pasangan cinta orang-orang pinggiran di sebuah kelurahan yang namanya Kelurahan Cinta. Perselingkuhan, perjudian, hingga seks bebas menjadi peristiwa kehidupan manusia di sana sehari-harinya. Sebuah potret masyarakat yang malas, dan penuh libido biologis itu diperankan oleh pemain baru di panggung teater di Bandung. Namun demikian, permainan mereka sangat intens dan serius membawakan peran mereka masing-masing.

Imajinasi yang sederhana tentang kehidupan sehari-hari masyarakat pinggiran itu merepresentasikan masalah lapangan pekerjaan yang sulit, suami-suami berpoligami, ada juga seorang istri berpoliandri. Dengan alasan yang beragam padahal masyarakat di Kelurahan Cinta itu sudah lama meninggalkan shalat. Para suami bangun siang, dan malas mencari uang dengan pergi pagi-pagi. Keseragaman budaya nampak pada pagi hari ketika suami-suami atau istri yang mencari nafkah selalu bangun terlambat. Tiap kali mereka dibangunkan untuk pergi bekerja selalu beralasan, “Sepuluh menit lagi…saya masih ngantuk,” ujar para suami. Tentu saja gerutu istri-istri mereka terdengar dari bilik-bilik rumah kontrakan mereka.

Pentas teater musikal plus pemutaran fragmen film itu seolah menjadi bentuk trend baru dalam kancah teater di Bandung. Sebuah bentuk teater yang berangkat dari selera pasar. Karena memang harus diakui bahwa penonton sinema elektronik lebih menjanjikan ketimbang penonton teater. Apalagi memenej penonton baru dari segmen anak-anak muda. Tidak sedikit kelompok teater banting tulang, bahkan banting setir untuk menanamkan ingatan kolektif pada kelompok teaternya di kalangan generasi muda.

Apa yang dilakukan oleh Laskar Panggung Bandung memang bukan kali pertama yang menerapka strategi pemasaran dengan pengemasan baru dari produksi teaternya. Namun paling tidak, sebagai wadah kreatifitas anak-anak muda Bandung dalam kesenian teater di Bandung patut dihargai sebagai upaya menghidupkan teater di Bandung setelah Studiklub Teater Bandung di era tahun 1970-80-an.
Apalagi wacana teater modern masa kini banyak yang mengembangkan metabahasa dalam bentuk visualnya. Yaitu sebuah pertunjukan teater yang tidak lagi beranjak dari gagasan tekstual, sastra darama, melainkan gagasan artistik visual seperti misalnya menggunakan bahasa gerak tubuh. Tubuh sebagai teks dan subteks itu sendiri. Seperti yang telah diungkapkan Afrizal Malna dalam sebuah diskusi buku “Ekologi Sastra Lakon Indonesia” karya Jakob Sumardjo pada Sabtu (25/8) di GSG STSI Bandung. “Teater sekarang berjalan sendiri-sendiri. Dan teks tubuh tidak harus dimengerti sebagai kematian teks dramatik,” katanya. (Argus Firmansah/Kontributor lepas Koktail - Jurnal Nasional)

Monolog Hermana Untuk Suyatna Anirun

Monolog Guru Yang “Terjebak”
Sebuah karung di antara dedaunan dan semak-semak meringkuk di tengahnya. Kemudian keluarlah suara manusia yang berujar penyesalan dirinya. Dia teringat saat itu, pada ibu kandung yang telah membesarkannya menjadi seorang bajingan, manusia hina, dan kotor. “Terima kasih ibu, cintamu begitu tulus dan abadi,” katanya di dalam karung itu. Namun katanya lagi, sudah tak mungkin untuk kembali ke dalam rahim sang ibu karena penyesalannya itu. Dosa besar baginya karena telah menjadi manusia kotor yang mencoreng wajah ibu kandungnya.
“Aku bukan Sidharta Gautama yang suci, aku manusia kotor dan hina. Aku terbuang,” ujarnya kemudian. Menyadari keterjebakannya dalam masalah itu ia berontak, ingin pergi. “Aku harus meloloskan diri dari semua masalah ini,” tukasnya sembari mencoba keluar dari dalam karung. Hingga kemudian ia lupa diri. Tapi ia terus menggeliat untuk keluar dari keterjebakannya dalam “karung” masalah itu.
Adegan serius berlanjut dengan masuknya dua orang penari dari pemain “Tubuh Lahir Tubuh Perang” yang sempat dipentaskan di Studio Teater bulan Juli lalu. Akan tetapi kemudian Hermana, pemain monolog “Terjebak”, menjelaskan adegan itu sebagai upaya sabotase dari pemain lain itu. Penonton pun disadarkan akan hal itu hingga membuat tertawa. Hermana keluar dari perannya sebagai guru yang terjebak masalah ekonomi dalam monolog itu. Kemudian berinteraksi dengan para penonton dan membuat sebuah dialog tentang guru. “Guru adalah pahlawan tanpa jasa, bagaimana menurut anda guru itu?” Tanya Hermana kepada penonton. Beberapa penonton angkat bicara menjawab pertanyaan dari Hermana. Ada yang menjawabnya dengan pernyataan keprihatinannya terhadap figur guru. Ada juga yang menjawab bahwa menjadi guru itu baik. “Saya merasa tidak terjebak menjadi guru. Saya senang menjadi guru, karena guru adalah jalan dakwah bagi saya, bukan profesi,” tutur Rahmat, 35 tahun, salah seorang penonton monolog itu.
Suasana cair itu kembali diarahkan pada pementasan oleh Hermana. Saat itu ia menjadi tokoh guru dalam perannya membawakan monolog Terjebak. Pementasan yang digelar dalam rangka ulang tahun Jurusan Teater STSI Bandung yang ke 29 di Gedung Patanjala, STSI Bandung kemarin (24/8). “Guru adalah pilar pembangunan bangsa. Karena guru lahirlah seorang pengusaha, tentara, wartawan, bahkan pejabat,” katanya. Semua penonton merasa diyakinkan oleh Hermana bahwa profesi guru adalah mulia. Namun demikian Hermana dalam perannya menjelaskan keadaan ekonomi guru-guru honorer yang diberi imbalan tidak memadai.
Suasana tragis pun terbangun dengan ujaran Hermana dalam pentas Terjebak itu. Kemudian muncul rekaman gambar seputar peristiwa demonstrasi pendidikan dan demonstrasi guru di beberapa kota. Adegan berlanjut dengan kisah dirinya yang menjadi guru honorer. Ketika itu ia menceritakan suatu kejadian runtut yang menyebabkan dia mati sebagai manusia. Yaitu ketika anak kesayangannya sakit dan dirawat di rumah sakit. Ketika itu ia tidak memiliki uang untuk menebus biaya rumah sakit. Karena itulah ian memberanikan diri untuk menjual buku kepada murid-murid yang diajarnya. Karena gaji guru honorer tidak mencukupi untuk membayar biaya rumah sakit.
Dalam kisah itu dia tertangkap oleh aparat karena tindakannya menjual buku kepada murid. Meski akhirnya dia dibebaskan, namun rasa bersalah teru menghantuinya. Maka dia menerima surat keputusan yang memberhentikannya sebagai guru honorer secara tidak hormat dari sekolah. Dia kemudian beralih profesi menjadi seorang pemulung. Namun profesi itu tidak juga menyejahterakan keluarganya. Anak dan istrinya sangat merindukan dia pulang. Namun dia belum mempunyai cukup uang untuk keluarganya di kampong.
Ekstasi kesulitan ekonomi dalam hidupnya divisualkan dengan adegan dikotik. Lagu “Kucing Garong” diperdengarkan dan dia menari di sana. Adegan ini lebih nampak sebagai puncak keputus-asaan dirinya yang tidak mampu mencari nafkah yang layak. Kesan hiburan di diskotik pun tidak terasa sebagai adegan hiburan.
Bencana tragis dalam hidupnya yang telah menjadi mantan guru it uterus berlanjut. Dia menerima sepucuk surat dari istrinya. Sebuah surat yang berisi kerinduan seorang istri dan anak kepadanya. Belum sempat dia membalas surat itu terdengar kabar bahwa kampunya dilanda bencana. Rekaman bencana nasional yang menimpa masyarakat Indonesia beberapa saat lalu, seperti banjir, gempa bumi, dan tsunami, ditayangkan pada layar di belakang panggung.
Saat itu dia hanya bisa meratapi tubuh anaknya yang sudah menjadi mayat. Rumahnya hancur berantakan. Istrinya entah di mana terkuburnya. Suasana sedih pun dihantar dengan alunan komposisi musik yang berisi puisi “Kemerdekaan” buah karya Toto Sudarto Bachtiar, yang dibacakan oleh seorang gadis kecil. Pertunjukan monolog Terjebak ditutup dengan gambar bendera merah putih pada layar di belakang panggung, sementara dia terkujur di tanah dengan kain putih yang menutupinya. *** Repertoar monolog Hermana yang berjudul “Terjebak” dikemas dengan sentuhan teknologi melalui sajian gambar-gambar hidup berupa video dokumenter dan animasi - multimedia di pentas. Penciptaan suasana tragis tokoh guru honorer yang dibawakan oleh Hermana itu tentu saja terasa lebih dramatis dan artistik, meskipun secara visual masih jauh dari kesempurnaan karena faktor peralatan media yang digunakan sangat terbatas kualitasnya.
Sementara itu, akting Hermana menggunakan konsep “Teater Sabrehna”. Bentuk teater Sabrehna menjadi ciri khas repertoar Hermana. Metode Brechtian, salah satu akar konsep Sabrehna, sendiri adalah teori pembawaan peran (akting) yang berasal dari teater anti ilusi atau antitesa dari proses empati yang disuguhkan oleh Aristoteles. Teater Verfremdungseeffekt (teater efek - pengasingan) atau alienasi, menegaskan adanya efek pengasingan yang muncul oleh alur cerita yang tidak berhubungan secara sebab-akibat, terpisah dan hanya terhubung oleh tema sentral. Pemain justru harus menjaga jarak dengan peran, sehingga pemain dapat berdialog dengan perannya sendiri. Itulah ciri teater epis Brecht.
Konsep teater Sabrehna dalam repertoar “Terjebak” juga repertoar sebelumnya diambil dari bahasa Sunda yang artinya seadanya, senyatanya. Jadi, teater Sabrehna adalah sabrehna apa yang dilihat, sabrehna apa yang dipikirkan, sabrehna apa yang dirasakan, dan sabrehna apa yang digerakkan dalam koridor kesadaran penuh tanpa mengesampingkan etika dan kekuatan estetik sebagai pertanggungjawaban kepada publik. “Main-main dalam bermain, tapi tidak main-main,” kata Hermana dalam proses latihan suatu produksi teater. Ia menekankan bahwa kesanggupan pemain itu harus ada ketika sedang bermain, berakting, dan adanya kesadaran untuk berkomunikasi dengan publik.
Konsep ini menjawab pertanyaan para kritikus dan penulis pertunjukan selama ini. Yakni ditunjukan dengan interupsi adegan ketika Hermana berada di tengah penonton dan berdialog dengan penonton secara langsung. “Jangan takut, jangan tegang! Ini bagian dari pertunjukan,” ujar Hermana kepada salah seorang penonton yang duduk di kursi paling depan yang terlihat tegang atau mungkin terganggu konsetrasinya saat menonton. Pada momen ini suasana pertunjukan agak cair, hingga kemudian Hermana memberi kesempatan kepada penonton untuk berkomentar tentang sosok dan peranan guru bagi masyarakat. Aktor turun ke area penonton memang tidak lazim ditemukan dalam pementasan teater realisme. Hermana melakukan hal ini karena konsep Sabrehna yang dipakainya.
Pertunjukan atau akting Hermana itu berlanjut lagi. Di atas pentas ia menjadi tokoh guru kembali. Dengan intensitas dan kesungguhan membawakan tokoh perannya. Kesedihan dengan air mata yang keluar terkesan benar-benar sedih. Ketika ia mengisahkan kisah sedih yang menimpa keluarganya. Hermana mengakui itu kepada saya dalam wawancara singkat setelah pertunjukan usai, bahwa tangis di atas pentas tadi benar-benar ekspresi kesedihannya terhadap guru-guru honorer di Indonesia. Jadi, air mata itu memang air mata sungguhan. Bentuk ekspresi ini kemudian disebutnya dengan kesungguhan memerankan tokoh di pentas. Jadi, memang tidak main-main.
Lakon “Terjebak” yang ditulisnya sendiri, dipentaskan sendiri, dan disutradarai sendiri ini merupakan sebuah repertoar yang dipersembahkan kepada seorang guru aktor di Bandung bahkan Indonesia, yaitu almarhum Suyatna Anirun. (Argus Firmansah/Kontributor lepas Koktail - Jurnal Nasional)

Friday, August 31, 2007

Butet Manurung di Gedung Indonesia Menggugat - Bandung

Inspirasi dari Rimba Hingga Pendidikan Alternatif Butet Manurung
Pendidikan nasional diindikasikan tidak dapat menyentuh setiap anak Indonesia. persoalan kurikulum hingga sistem pendidikan yang hanya mencetak tenaga kerja menjadi persoalan bagi masyarakat. Karena lapangan pekerjaan yang tersedia tidak dapat diakses oleh masyarakat yang telah mengenyam pendidikan dasar, bahakan perguruan tinggi.

Ini menjadi persoalan. Namun demikian pemerintah tidak dapat disalahkan juga, karena pemerintah melalui Mendiknas sudah berupaya keras meningkatkan pendidikan nasional, termasuk mengupayakan anggaran pendidikan 20%, dan melaksanakan butir Undang-Undang Dasar 1945 soal pendidikan nasional. Persoalan anggaran pendidikan 20% itu sudah menjadi tanggungjawab pemerintah daerah masing-masing.

Pendidikan nasional menjadi sorotan masyarakat dengan dilaksanakannya sistem standarisasi kemampuan pendidikan dasar sumber daya manusia melalui Ujian Nasional. Di tengah persoalan pelaksanaan sistem nasional itu, Butet Manurung menawarkan sebuah sistem pendidikan dasar yang berbasis komunitas atau adat suatu masyarakat. Pendidikan alternatif dan bebas biaya bagi peserta didiknya mulai banyak dilakukan oleh komunitas masyarakat yang konsen terhadap kemajuan pendidikan dasar anak-anak Indonesia.

Apa yang dilakukan oleh Saur Marlina "Butet" Manurung (35 tahun) dengan Sokola Rimba di Bukit Tujuh Belas, Jambi, rupanya menjadi inspirasi untuk sebuah solusi memajukan pendidikan nasional di daerah terpencil. Hal ini dikemukakan pembahas yaitu oleh Aat Suratin, Budi Radjab, dan Irwanto dalam Diskusi Terbuka yang bertajuk “Adventure Education Experience” di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Kamis kemarin (30/8). Diskusi tersebut juga membahas buku Butet Manurung yang berjudul Sokola Rimba.
Irwanto, aktivis lingkungan dari komunitas Wanadri, mengemukakan bahwa buku yang ditulis Butet Manurung dalam Sokola Rimba merupakan inskripsi kejujurannya dalam upaya Butet Manurung menyebarkan ilmu pengetahuannya kepada anak-anak di dalam rimba. Buku itu sangat sederhana dan jujur dalam mengungkapkan masalah pendidikan dan cara mengatasi kesenjangan pengetahuan di masyarakat rimba. Bahasanya mudah dicerna karena apa yang ditulisnya dalam buku itu adalah pengalaman pribadi, dan bisa jadi lebih arif daripada orang kota dalam mendidik anak-anak.
Aat Suratin, dari sudut pandang budaya, memandang apa yang dilakukan oleh Butet Manurung adalah sebuah kerja budaya, yaitu “Pendidikan yang menyenangkan. Metode pendidikan yang dilakukan oleh Butet selalu mencari cara-cara baru, inovatif, sampai menemukan cara yang tepat. Dan itu membuat anak-anak rimba senang,” kata Aat Suratin. “Orang lokal mengejar mimpi dan mewujudkan mimpi itu, sedangkan orang kota tidak demikian,” tutur Aat Suratin dalam membongkar prinsip budaya masyarakat di Indonesia. Kerja budaya menurut Aat Suratin terbagi ke dalam beberapa prinsip dasar, antara lain: pendidikan harus membumi, menguntungkan, diorganisasi secara lokal, menumbuhkan kesadaran akan perubahan kebudayaan, mampu memberi keyakinan siapa dirinya dana mau jadi apa kelak. “Prinsip-prinsip itu bukan untuk sekolah rimba seperti yang dilakukan oleh Butet, tapi untuk pendidikan di kota. Akan tetapi prinsip-prinsip itulah yang diterapkan ke dalam sekolah rimba Butet dengan anak-anak adat setempat,” tambah Aat Suratin. Butet Manurung juga dipandang menerapkan prinsip leadership dengan sekolah rimbanya oleh Aat Suratin.
Forum diskusi terbuka itu bukan saja menjadi inspirasi bagi para pendidik di Indonesia. Juga menjadi masukan bagi para pecinta alam di tanah air. Bahwa menjadi pecinta alam tidak hanya hiking, camping, atau memenuhi ambisi pribadi untuk mencapai puncak ketinggian suatu gunung yang ada di Indonesia. Tapi bagaimana pecinta alam berinteraksi dengan masyarakat di sana, sehingga menemukan cara pandang baru seperti yang sudah dilakukan Butet Manurung dengan pendidikan alternatifnya.
Lalu bagaimana dengan pecinta alam lainnya, yang sering menjelajah pedalaman Indonesia dengan tujuan masing-masing itu? Apakah pernah terbersit dalam benak mereka untuk menyatu dengan masyarakat adat selain dengan alam yang dikunjunginya? Pertanyaan ini pun muncul setelah menelusur apa yang dilakukan Butet Manurung dengan tujuan sosialnya itu. Dengan program sederhana yang berbasis pendidikan komunitas adat, banyak hal yang dapat diperoleh selain sebuah kebanggaan karena sudah mampu dan berani menaklukan alam Indonesia.
Awalnya, Butet Manurung datang ke pedalaman Indonesia sebagai perempuan yang mencintai alam Indonesia yang memiliki kekayaan alamnya. Namun, ketika dia berinteraksi dengan masyarakat adat yang hidup di pedalaman itu muncul masalah bahasa sebagai alat komunikasi dasar. Sebagai perempuan sarjana bahasa Indonesia di UNPAD, dia melihat motivasi lain yang tidak hanya sekedar camping atau menjelajah hutan. Tapi bagaimana membuat hidup bermanfaat bagi orang lain. “Hidup bagi saya, bagaimana hidup saya bisa bermanfaat bagi orang lain dengan hobi kita. Jadi hobi yang bermanfaat bagi orang lain,” katanya. Melalui hobi menjelajah alam itulah Butet Manurung menerapkan sistem pendidikan dasar dengan metode Silabel. Metode ini adalah sebuah cara yang diolah oleh Butet untuk mengajarkan anak-anak rimba mengenal bahasa Indonesia selama dia berada di pedalaman Bukit Tujuh Belas, Jambi, Sumatera Timur. Metode ajar ini merupakan ramuan Butet dari pengetahuan antropologi dan bahasa yang pernah diperolehnya di universitas. Metode Silabel adalah pengajaran bahasa Indonesia yang terbagi dalam 16 ejaan, yaitu pembagian konsonan-vokal berdasarkan bunyi.
Butet juga mengatakan bahwa anak-anak dan masyarakat adat di pedalaman merasa tertekan oleh orang luar. Tekanan itu berupa justifikasi bahwa mereka itu primitif, bodoh, apdahal mereka merasa nyaman hidup seperti itu. Banyak orang luar yang melakukan penipuan kepada mereka, juga pencurian kekayaan alam atas nama organisasi yang tidak mereka mengerti.
Setelah mendapat pendidikan dasar dari Butet masyarakat adat yang menjadi komunitas didiknya mulai memahami dan mengetahui bagaimana berkomunikasi dengan orang luar yang datang ke tempat mereka. Mereka juga sudah bisa menghitung dan membaca, termasuk tahu kepada pihak mana untuk mengadukan perilaku individu atau organisasi yang melakukan pembalakan liar, pencurian kayu, dan tindakan kriminal lainnya. Dengan demikian, pendidikan yang dilakukan Butet di komunitas adat telah membuka akses pada pengetahuan dan peradaban, meskipun kesenjangan antara komunitas adat dan masyarakat luar masih ada.
Hal itu dicapai oleh Butet selama empat tahun berproses bersama masyarakat adat. Dari proses itu, bukan hanya masyarakat adat saja yang belajar, tapi Butet juga. Dalam forum itu Butet mengatakan setelah belajar dan hidup bersama masyarakat adat, cara pandangnya berubah. Yaitu ketika suatu saat ada beruang dengan anaknya datang ke tempat Butet dana anak-anak belajar. Butet ketika itu naik ke pohon. Sementara anak-anak rimba yang sudah berumur 12 tahun lebih mengusur induk beruang, dan menusuk-nusuk anak beruang dengan tombaknya secara beramai-ramai. Setelah peristiwa itu Butet menyatakan ketidaksetujuannya. Namun mereka mengatakan bahwa apa yang ada di depan mereka adalah rezeki dari Dewa mereka. “Dari situ saya jadi berpikir, maka kita harus berpikir dengan cara orang setempat,” ujar Butet dalam penjelasannya.
Butet Manurung kecil adalah salah satu “anak pingit”, karena kemana pun dia pergi selalu diantar oleh supir. Masa kecil Butet pernah hidup di Belanda selama empat setengah tahun di sana. Masa kecil Butet hanya mengenal Jakarta dan Belanda. Selain itu tidak ada. Butet kecil sangat menyenangi binatang kecil seperti semut, ulet berbulu, dan lain-lain.
Setelah masuk usia muda, Butet kuliah di UNPAD dan mengambil dua bidang studi dengan tahun ajaran yang berbeda, yaitu antropologi dan bahasa. Selam kuliah, Butet bekerja sambilan dengan mengajar Matematika dan Organ. Hasilnya ditabungnya agar setiap bulan bisa pergi ke gunung, misalnya untuk camping. Penjelajahan alam memang selalu diidam-idamkannya sejak Butet masih remaja, karena sejak kecil Butet menjadi ‘anak pingit’ oleh ayahnya. Maka pada usia muda dia mampu mewujudkan hobinya itu untuk menjadi pecinta alam.
Gedung Indonesia Menggugat bersama TIM SOKOLA, dan EIGER sebagai sponsor, Insist Press, melaksanakan kegiatan peluncuran buku SOKOLA RIMBA di Bandung untuk kali pertama. Kehadiran Butet Manurung dengan penjelasannya yang rinci mengungkap bagaimana sebuah pendidikan dasar bisa dilaksanakan oleh seorang perempuan Indonesia seperti Butet Manurung di rimba raya Indonesia.
Apa yang dilakukan Butet Manurung dengan sekolah rimbanya itu tentu saja menjadi masukan yang penting dan berarti dalam upaya memajukan pendidikan nasional. Pendidikan nasional yang tidak hanya dilakukan di wilayah perkotaan dengan segala bentuk komersialisasinya, tetapi bentuk pendidikan yang efektif dan benar-benar dirasakan positif oleh masyarakat. (Argus Firmansah/wartawan lepas tinggal di Bandung)

Tuesday, August 28, 2007

THE THEATRE AGENDA'S from THE NEW YORKER

OPENINGS AND PREVIEWS
Please call the phone number listed with the theatre for timetables and ticket information.
AMERICA LOVESEXDEATH Billy the Mime is the creator and star of this show, a series of sketches about current events. In previews. Opens Sept. 6. (Flea, 41 White St. 212-352-3101.)
THE DINING ROOM The Keen Company opens its season with A. R. Gurney’s drama, a series of vignettes about a twentieth-century Wasp family. Jonathan Silverstein directs. Previews begin Sept. 11. (Clurman, 410 W. 42nd St. 212-279-4200.)
EDGE Angelica Torn stars in this one-woman show about the life of Sylvia Plath. Paul Alexander wrote and directs. Previews begin Sept. 4. Opens Sept. 9. (ArcLight, 152 W. 71st St. 212-352-3101.)
100 SAINTS YOU SHOULD KNOW Playwrights Horizons kicks off the season with the world première of a play by Kate Fodor, about a woman who becomes intrigued by a troubled priest at the church that she cleans. Janel Moloney, Lois Smith, Jeremy Shamos, Will Rogers, and Zoe Kazan star. Ethan McSweeny directs. In previews. (416 W. 42nd St. 212-279-4200.)
KING LEAR Royal Shakespeare Company brings its production of the tragedy, starring Ian McKellen and directed by Trevor Nunn, to BAM. Playing in repertory with “The Seagull.” Opens Sept. 6. (BAM’s Harvey Theatre, 651 Fulton St. 718-636-4100.)
THE POWER OF DARKNESS Mint Theatre Company revives Leo Tolstoy’s drama from 1886, about a Russian peasant who becomes involved in a murder. Previews begin Sept. 6. (311 W. 43rd St. 212-315-0231.)
PURPLE HEARTS Burgess Clark’s drama about the 1941 Pearl Harbor attack, directed by David Epstein. Previews begin Sept. 5. Opens Sept. 8. (Gene Frankel Theatre, 24 Bond St. 212-387-8440.)
RITES OF PRIVACY David Rhodes wrote this one-man show, in which he portrays numerous characters, including a Southern pageant queen and a Nazi refugee. In previews. Opens Aug. 30. (Urban Stages, 259 W. 30th St. 212-868-4444.)
ROCK DOVES The première of a drama by Marie Jones, set in postwar Northern Ireland. Ian McElhinney directs. Previews begin Sept. 6. (Irish Arts Center, 553 W. 51st St. 212-868-4444.)
SCARCITY Atlantic Theatre Company presents the première of a new play by Lucy Thurber, about siblings longing to escape their life of poverty. Previews begin Aug. 29. (336 W. 20th St. 212-279-4200.)
THE SEAGULL Royal Shakespeare Company brings its production of Chekhov’s drama, directed by Trevor Nunn, to BAM. Ian McKellen stars in select performances. Playing in repertory with “King Lear.” Opens Sept. 7. (BAM’s Harvey Theatre, 651 Fulton St. 718-636-4100.)
THE SHAPE OF METAL Origin Theatre Company presents Thomas Kilroy’s drama, in which a sculptor copes with the disappearance of her daughter. Brian Murray directs. Previews begin Sept. 8. (59E59, at 59 E. 59th St. 212-279-4200.)
TILL THE BREAK OF DAWN Danny Hoch’s new hip-hop play, about a group of South Bronx radicals who take a trip to Havana, Cuba. Previews begin Sept. 4. (Abrons Arts Center, 466 Grand St. 212-352-3101.)
WALMARTOPIA! THE MUSICAL Daniel Goldstein directs this musical comedy, about a Wal-Mart employee who wakes up in the year 2037, when Wal-Mart rules the world. With a book by Catherine Capellaro and music and lyrics by Andrew Rohn. In previews. Opens Sept. 3. (Minetta Lane Theatre, 18 Minetta Lane. 212-307-4100.)
See all information by click:

The Lobby

The Lobby
by David Remmick
Last year, two distinguished political scientists, John J. Mearsheimer, of the University of Chicago, and Stephen M. Walt, of the John F. Kennedy School of Government, at Harvard, published a thirty-four-thousand-word article online entitled “The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy,” a shorter version of which appeared in The London Review of Books. Israel, they wrote, has become a “strategic liability” for the United States but retains its strong support because of a wealthy, well-organized, and bewitching lobby that has a “stranglehold” on Congress and American élites. Moreover, Israel and its lobby bear outsized responsibility for persuading the Bush Administration to invade Iraq and, perhaps one day soon, to attack the nuclear facilities of Iran. Farrar, Straus & Giroux will publish a book-length version of Mearsheimer and Walt’s arguments on September 4th.
Mearsheimer and Walt are “realists.” In their view, diplomatic decisions should be made on the basis of national interest. They argue that in the post-Cold War era, in the absence of a superpower struggle in the Middle East, the United States no longer has any need for an indulgent patronage of the state of Israel. Three billion dollars in annual foreign aid, the easy sale of advanced weaponry, thirty-four vetoes of U.N. Security Council resolutions critical of Israel since 1982—such support, Mearsheimer and Walt maintain, is not in the national interest. “There is a strong moral case for supporting Israel’s existence,” they write, but they deny that Israel is of critical strategic value to the United States. The disappearance of Israel, in their view, would jeopardize neither America’s geopolitical interests nor its core values. Such is their “realism.”
The authors observe that discussion about Israel in the United States is often circumscribed, and that the ultimate price for criticizing Israel is to be branded an anti-Semite. They set out to write “The Israel Lobby,” they have said, to break taboos and stimulate discussion. They anticipated some ugly attacks, and were not disappointed. The Washington Post published a piece by the Johns Hopkins professor Eliot Cohen under the headline “Yes, It’s Anti-Semitic.” The Times reported earlier this month that several organizations, including a Jewish community center, have decided to withdraw speaking invitations to Mearsheimer and Walt, in violation of good sense and the spirit of open discussion.
Mearsheimer and Walt are not anti-Semites or racists. They are serious scholars, and there is no reason to doubt their sincerity. They are right to describe the moral violation in Israel’s occupation of Palestinian lands. (In this, most Israelis and most American Jews agree with them.) They were also right about Iraq. The strategic questions they raise now, particularly about Israel’s privileged relationship with the United States, are worth debating––just as it is worth debating whether it is a good idea to be selling arms to Saudi Arabia. But their announced objectives have been badly undermined by the contours of their argument—a prosecutor’s brief that depicts Israel as a singularly pernicious force in world affairs. Mearsheimer and Walt have not entirely forgotten their professional duties, and they periodically signal their awareness of certain complexities. But their conclusions are unmistakable: Israel and its lobbyists bear a great deal of blame for the loss of American direction, treasure, and even blood.
In Mearsheimer and Walt’s cartography, the Israel lobby is not limited to AIPAC, the American Israel Public Affairs Committee. It is a loose yet well-oiled coalition of Jewish-American organizations, “watchdog” groups, think tanks, Christian evangelicals, sympathetic journalists, and neocon academics. This is not a cabal but a world in which Abraham Foxman gives the signal, Pat Robertson describes his apocalyptic rapture, Charles Krauthammer pumps out a column, Bernard Lewis delivers a lecture—and the President of the United States invades another country. Dick Cheney, Donald Rumsfeld, and Exxon-Mobil barely exist.
Where many accounts identify Osama bin Laden’s primary grievances with American support of “infidel” authoritarian regimes in Islamic lands, Mearsheimer and Walt align his primary concerns with theirs: America’s unwillingness to push Israel to end the occupation of the West Bank and Gaza. (It doesn’t matter that Israel and the Palestinians were in peace negotiations in 1993, the year of the first attack on the World Trade Center, or that during the Camp David negotiations in 2000 bin Laden’s pilots were training in Florida.) Mearsheimer and Walt give you the sense that, if the Israelis and the Palestinians come to terms, bin Laden will return to the family construction business.
It’s a narrative that recounts every lurid report of Israeli cruelty as indisputable fact but leaves out the rise of Fatah and Palestinian terrorism before 1967; the Munich Olympics; Black September; myriad cases of suicide bombings; and other spectaculars. The narrative rightly points out the destructiveness of the Israeli settlements in the occupied territories and America’s reluctance to do much to curtail them, but there is scant mention of Palestinian violence or diplomatic bungling, only a recitation of the claim that, in 2000, Israel offered “a disarmed set of Bantustans under de-facto Israeli control.” (Strange that, at the time, the Saudi Prince Bandar told Yasir Arafat, “If we lose this opportunity, it is not going to be a tragedy. This is going to be a crime.”) Nor do they dwell for long on instances when the all-powerful Israel lobby failed to sway the White House, as when George H. W. Bush dragged Yitzhak Shamir to the Madrid peace conference.
Lobbying is inscribed in the American system of power and influence. Big Pharma, the A.A.R.P., the N.R.A., the N.A.A.C.P., farming interests, the American Petroleum Institute, and hundreds of others shuttle between K Street and Capitol Hill. Zbigniew Brzezinski, President Carter’s national-security adviser, recently praised Mearsheimer and Walt in the pages of Foreign Policy for the service of “initiating a much-needed public debate,” but he went on to provide a tone and a perspective that are largely missing from their arguments. “The participation of ethnic or foreign-supported lobbies in the American policy process is nothing new,” he observes. “In my public life, I have dealt with a number of them. I would rank the Israeli-American, Cuban-American, and Armenian-American lobbies as the most effective in their assertiveness. The Greek- and Taiwanese-American lobbies also rank highly in my book. The Polish-American lobby was at one time influential (Franklin Roosevelt complained about it to Joseph Stalin), and I daresay that before long we will be hearing a lot from the Mexican-, Hindu-, and Chinese-American lobbies as well.”
Taming the influence of lobbies, if that is what Mearsheimer and Walt desire, is a matter of reforming the lobbying and campaign-finance laws. But that is clearly not the source of the hysteria surrounding their arguments. “The Israel Lobby” is a phenomenon of its moment. The duplicitous and manipulative arguments for invading Iraq put forward by the Bush Administration, the general inability of the press to upend those duplicities, the triumphalist illusions, the miserable performance of the military strategists, the arrogance of the Pentagon, the stifling of dissent within the military and the government, the moral disaster of Abu Ghraib and Guantánamo, the rise of an intractable civil war, and now an incapacity to deal with the singular winner of the war, Iran—all of this has left Americans furious and demanding explanations. Mearsheimer and Walt provide one: the Israel lobby. In this respect, their account is not so much a diagnosis of our polarized era as a symptom of it. (The New Yorker, 3 September 2007)

Friday, August 24, 2007

29 Tahun Jurusan Teater STSI Bandung

Mendongkrak Citra Pelaku Teater di Bandung
Sebuah perbincangan yang dihadiri banyak lulusan Jurusan Teater STSI Bandung digelar oleh Jurusan Teater STSI Bandung yang bertajuk ”29 TAHUN JURUSAN TEATER STSI BANDUNG” di lobi GK Sunan Ambu, STSI Bandung pada Jumat (24/8) kemarin. Pembicara dalam obrolan sanati itu antara lain Herry Dim (perupa Bandung), Bambang Arayana (pengajar SMKI Bandung), R.N. Wasitaatmaja (alumnus Jurusan Teater STSI Bandung). Obrolan sore itu banyak mengungkapkan persoalan citra teater di Bandung dan pandangan publik secara nasional saat ini. Banyak kritik dan saran dari mahasiswa yang hadir dalam obrolan tersebut, termasuk juga masukan dari pengajar Jurusan Teater STSI Bandung, bahkan alumni Jurusan tersebut.
Persoalan yang krusial dalam obrolan tersebut cenderung berisi ungkapan rasa kekecewaan terhadap nasib pelaku teater di Bandung yang masih dianggap tidak sesuai dengan yang diharapkan. Antara lain menyoal peluang kerja profesi yang sesuai dengan pendidikan keahliannya.
Sementara itu Herry Dim memaparkan konsep bagaimana membangun citra pelaku teater di Bandung tidak hanya dikela oleh kalangan sendiri. Untuk itu dibutuhkan langkah strategis, yang antara lain menjadi public relation bagi kawan-kawan pelaku teater. Langkah sederhana ini seringkali tidak terpikirkan oleh pelaku teater itu sendiri. “Ketika bertemu dengan orang lain kita tidak membicarakan diri sendiri, tetapi membicarakan orang lain,” ujar Herry Dim. Sehingga dapat dikatakan setiap pelaku teater Bandung saling mempromosikan kawan senimannya.
Eksistensi pelaku teater Bandung perlu dikenal oleh orang lain di daerah luar Bandung. Herry Dim juga menyatakan bahwa citra pelaku teater Bandung memang tidak dikenal secara nasional. Oleh karena itu, R.N. Wasitaatmaja mengatakan perlunya membangun relasi di daerah lain. Relasi ini tentu saja akan menghasilkan aksesibilitas pelaku teater dari Bandung untuk bisa hidup mapan dan berkarya di daerah luar Bandung.
Bambang Arayana mengatakan pentingnya membangun karakter pelaku teater yang tidak hanya ahli sebagai seniman tetapi juga memiliki karakter kuat secara keilmuan. Untuk mencapai langkah itu memang dibutuhkan pembenahan kurikulum di Jurusan Teater STSI Bandung dan aspek lainnya.
Membaca Konteks Jaman Dalam obrolan itu juga diungkap persoalan sikap pelaku teater Bandung, agar dalam proses membangun karakter dirinya tidak hanya sampai perbincangan teoritis saja. Akan tetapi aplikasi dari keilmuan yang dapat dilakukan secara nyata dan diketahui oleh masyarakat luas.
Paradigma lama pelaku teater yang mengenyam pendidikan seni teater di STSI Bandung sudah saatnya membuka diri dan bersosialisasi dengan elemen seni budaya lainnya, sehingga wawasan yang dimilikinya tidak sempit. Dengan keluasan cara pandang inilah diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran untuk membaca situasi jaman dan kebutuhan masyarakat, ketika membincangkan persoalan pemasaran seni teater Bandung. Para membicara menyepakati keadaan sekarang ini pada poelaku teater yang dianggap kurang militan dalam membangun dan mengembangkan dunia teater.
Selain itu dibincangkan pula bagaimana membangun relasi yang baik dengan media massa. Potensi sumber daya pelaku teater Bandung yang memilih dunia penulisan dan kritik dirasakan masih minim akses dan publisitas. Penulis repertoar pertunjukan teater dan kritik tidak terakomodir oleh media massa hanya karena persoalan aksesibilitas dengan perusahaan pers.
Namun demikian, ada hal yang terlupakan oleh pelaku teater Bandung. Yaitu budaya kritik dan menjalin hubungan dekat dengan insan pers. Dengan banyaknya peristiwa teater yang digelar di Bandung tetapi tidak terliput oleh media massa menyebabkan pelaku teater menganggap dirinya sudah cukup besar, hanya dengan ditonton oleh orang banyak. Seringkali pertunjukan-pertunjukan teater hanya menggunakan strategi publikasi dengan penyebaran foster atau pamflet. Padahal, sebuah acara kecil yang namanya “konferensi pers” sangat penting untuk menjalin hubungan baik dengan insan pers serta menanamkan kesadaran insan pers sebagai kawan dan bagian dari peristiwa teater tersebut.
Strategi Jitu Membangun Citra Teater Bandung Diskusi pemasaran teater produk mahasiswa dan alumni STSI Bandung juga dibahas sebelum obrolan santai itu. Aendra Meditha dalam forum diskusi yang bertajuk “Public Relation”, sebagai pembicara, memaparkan pentingnya dibangun kemampuan sumber daya manusia yang memahami dan mampu membangun relasi dengan sumber-sumber kapital untuk membantu pembiayaan produksi sebuah teater.
Namun demikian Aendra lebih banyak membahas bagaimana menumbuhkan kesadaran untuk menguasai ilmu manajemen. Sense of management sangat membantu suksesnya sebuah produksi teater, baik secara manajerial maupun secara publisitas. ***
Begitu banyak persoalan dalam membangun, mengembangan, serta memelihara citra teater yang baik sehingga dapat diterima oleh masyarakat seluas mungkin. Akan tetapi, para alumni Jurusan Teater STSI yang hadir dalam forum-forum itu memang sengaja diundah oleh lembaga untuk memberi masukan berupa pencerahan, baik mengelola ide kreatif maupun manajemennya.
Penyelenggaraan ulang tahun Jurusan Teater STSI Bandung yang ke-29 yang jatuh pada tanggal 26 Agustus ini akhirnya menjadi semacam kegiatan reuni antar angkatan. Alumni STSI Bandung yang sudah sukses berkecimpung di bidang broadcast hadir untuk memberi ilmu dan pengalamannya di dunia bisnis hiburannya kepada alumni lain, khususnya mahasiswa-mahasiswi Jurusan Teater STSI Bandung.
Kesempatan itu pun dimanfaatkan oleh sejumlah mahasiswa dan mahasiswi untuk menimba ilmu berharga itu. Mereka yang sudah lama bekerja di televisi swasta masih konsen terhadap adik-adik kelasnya dengan membagi pengalamannya di ibukota, Jakarta. (Argus Firmansah/wartawan lepas tinggal di Bandung)

Wednesday, August 22, 2007

Diskusi Pendidikan Indonesia Di CCF Bandung

Diskusi: Mengkaji Pendidikan Indonesia Menyoroti persoalan pendidikan di Indonesia memang tak ada habisnya. Beragam persoalan yang berupa pelanggaran pun kerap muncul di beberapa daerah. Kenyataan ini menjadi perhatian public dan pemerhati pendidikan di tanah air.
Sebuah diskusi publik digelar di Pusat Kebudayaan Prancis (CCF) Bandung kemarin (22/8) dengan menghadirkan aktivis pendidikan asal Jogjakarta, Eko Prasetyo. Anggota Komis E DPRD Kota Bandung, Drs. Kusmaeni, juga hadir di sana sebagai wakil pemerintah dalam mengkaji persoalan pendidikan Indonesia dalam diskusi yang bertajuk “Budaya Pendidikan Kita”. Wakil dari lembaga survei anggaran kota Bandung, BIGS, Dan Satriana hadir selaku moderator diskusi pendidikan tersebut. Rahmat Jabaril dalm pembukaan diskusi mengatakan, bahwa diskusi tersebut merupakan refleksi atas kondisi bangsa saat ini. “Keadaan bangsa yang schizophrenic saat ini dan pendidikan adalah akar permasalahannya,” katanya. Diskusi “Budaya Pendidikan Kita” dibuka dengan sebuah presentasi hasil survei data Bandung Institute of Governance Studies (BIGS) menyoal anggaran pendidikan kota Bandung. Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang No. 20, 2003 tentang Sisdiknas, dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan mendapat alokasi minimal 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara dan daerah (APBN dan APBD).
Dari hasil traking anggaran selama tiga tahun, 2004, 2005 dan 2006 ditemukan bahwa dalam APBD Kota Bandung, alokasi anggaran pendidikan (khususnya di Dinas Pendidikan Kota Bandung hanya berkisar 5 hingga 8 persen. Yang berkisar pada angka 63.616.925.084 miliar rupiah. Bigs menawarkan solusi anggaran dengan (1) memaksimalkan anggaran yang tersisa; (2) jika rata-rata penurunan 1 persen dari 1 triliun jumlahnya adalah Rp 10 miliar; (3) angka itu cukup besar untuk membantu orang tua yang miskin menyekolahkan anak-anaknya. Alokasi anggaran pendidikan Kota Bandung yang termuat dalam APBD 2007 mencapai Rp 544 miliar atau 34,09 % dari total APBD Kota Bandung sebesar Rp 1,6 triliun, dengan rincian alokasinya terdiri dari belanja tidak langsung Rp 466,7 miliar, belanja langsung Rp 49,5 miliar, dan bantuan untuk masyarakat Rp 27,8 miliar. Dari traking yang dilakukan ternyata program-program yang dilaksanakan lebih banyak tidak berkaitan langsung dengan penyelenggaraan pendidikan. Hasil kajian FITRA menguraikan bahwa, seperti di tingkat nasional, di daerah pun, khususnya di Dinas Pendidikan Kota Bandung, anggaran tersebut habis digunakan untuk pelayanan dan kebutuhan birokrasi seperti diklat teknis pegawai, peningkatan kapasitas kelembagaan, administrasi kepegawaian, dll. Kondisi Pendidikan Indonesia Drs. Kusmaeni, anggota Komisi E DPRD Kota Bandung, mengatakan hingga saat ini komitmen DPRD Kota Bandung berupaya untuk terus mendorong adanya peningkatan berbagai sector, terutama sektor pendidikan. Hasil riset BIGS yang disajikan kepada peserta diskusi memang diamini kebenarannya oleh Drs.Kusmaeni. “Sebesar 20% dari PAD memang untuk pendidikan, sisanya 80% digunakan untuk belanja aparatur,” ujar Drs. Kusmaeni dalam pemaparannya. Persoalan anggaran untuk pendidikan memang membutuhkan proses yang tidak semudah membalikan telapak tangan. Namun hal itu terus diupayakan oleh DPRD Kota Bandung. “Pendidikan Indonesia memang belum tertata rapi,” tambahnya.
Hal lain justru diungkapkan oleh Eko Prasetyo, penulis di penerbit Resist Book dan Ketua Dewan Pembina Rumah Pengetahuan Amartya, Bantul, Jogjakarta. Eko lebih banyak bicara soal fakta di lapangan menyoal pendidikan nasional dengan memaparkan beberapa data hasil penelusurannya terkait dengan sulitnya aksesibilitas masyarakat miskin terhadap pendidikan dasar yang dicanangkan pemerintah. Ia memberi contoh apa yang sedang dilakukan Rumah Pengetahuan Amartya di Bantul, Jogjakarta. Sebagai contoh sekolah gratis yang sudah berjalan untuk mengakomodasi anak-anak dari keluarga miskin di sekitar sekolah gratis tersebut.
Apa yang ditanamkan pada anak-anak didiknya di sekolah gratis itu antara lain demokrasi, literasi, dan aksi. “Mengajarkan anak-anak masuk sekolah senang dan keluar dari sekolah juga senang,” papar Eko. Motivasi Eko dan kawan-kawannya dengan dibuat sekolah gratis tersebut adalah, bahwa pendidikan Indonesia kehilangan akar sehatnya, dan penuh interpensi politis. Mengapa? Karena pendidikan Indonesia melatih anak menjawab, bukan menumbuhkan budaya bertanya. “Pendidikan kita merayakan pertanyaan yang tidak mutu. Pendidikan kita tidak melatih inisiatif, atau berdiskusi, atau berorganisasi,” ujarnya. Yang terjadi malah jam pelajaran yang panjang disertai mata pelajaran yang luar biasa banyaknya. Sekolah menjadi tempat kehilangan peradaban, kreatifitas, budaya menulis dan membaca.
Komersialisasi pendidikan rupanya menyulitkan masyarakat miskin. Pendidikan adalah urusan publik. Maka seharusnya sebuah pemerintah memberikan perhatian khusus peningkatan kualitas pendidikan Indonesia dengan anggaran yang sangat memadai. Pada kesempatan itu Eko juga mengatakan, “Komitmen pemerintah bukan untuk ditunggu, tapi harus dipaksa karena urusan pemerintah sangat banyak.”
Program BHP pada institusi pendidikan masih dirasa memberatkan mahasiswa di Jogjakarta dan Jawa Tengah. Melalui program komersialisasi institusi pendidikan tersebut maka terbentuk suatu hubungan konsumen dan produsen. Siapa yang banyak uang, ia yang dilayani. Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki biaya? Hal inilah yang perlu ditinjau kembali oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah masing-masing, bahwa kesejahteraan masyarakat Indonesia belum merata. Apalagi setelah melihat kondisi aktifitas pendidikan di beberapa daerah, khususnya di Jogjakarta. Yakni tradisi kultur intelektual yang kurang kondusif, dengan kurangnya minat mahasiswa menghidupkan perpustakaan. Dan dengan banyaknya beban ilmu yang ditempuh mendorong mahasiswa lebih aktif di kantin kampusnya ketimbang di perpustakaan.
Eko juga mengkritisi pendidikan sejarah di sekolah-sekolah di tanah air. Pendidikan sejarah tidak mengajarkan siswanya untuk mengkaji peristiwa apa yang terjadi di dalam peristiwa sejarah itu, seperti perlawanan terhadap kolonial. Mereka hanya menghafal nama pahlawan dan tanggal kelahirannya. Pendidikan Indonesia hendaknya berbasis pada realitas. “Anak-anak tidak diajari realitas dan kejujuran, justru diberi propaganda. Maka hasilnya, anak-anak jadi liar. Ingatan dan pengalaman selama sekolah bukan pelajaran, tapi hal-hal lain di luar yang diajarkan di kelas mereka.” Oleh karena itu Eko menyarankan agar jam pelajaran anak-anak sekoilah dikurangi, serta jam sekolahnya dikurangi. “Karena tugas pendidikan yang seutuhnya adalah tanggungjawab orang tua mereka sepenuhnya,” tambah Eko menanggapi pertanyaan peserta diskusi. Sekolah Gratis di Bantul, Jogjakarta Eko Prasetyo, sebagai Ketua Dewan Pembina Rumah Pengetahuan Amartya, bersama kawan-kawan aktivis membuat sekolah gratis yang diberi nama Rumah Pengetahuan Amartya di Perumahan Griya Mutiara, Bantul, Jogjakarta. Siswa-siswi di sekolah itu banyak dari keluarga miskin di pemukiman penduduk sekitar kompleks itu. Meski izin dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bantul menolak pendirian sekolah gratis itu. Mereka sudah memiliki 47 siswa selama enam bulan berjalannya program sekolah gratis itu.
Sekolah gratis itu melibatkan peran orang tua siswa-siswinya yang rata-rata dari keluarga miskin. Anak-anak yang berusia 6 – 13 tahun itu tidak dikelompokkan ke dalam kelas-kelas. Semua anak-anak disatukan di dalam satu ruangan kecil yang dilengkapi buku-buku sejumlah 5000 judul. Persoalan dana operasional dan lain-lain diperoleh dari sumbangan kawan-kawan aktivis dan uang pribadi keluarga Eko Prasetyo.
Namun demikian, sekolah gratis itu tidak menerapkan system kurikulum dalam proses belajar dan mengajarnya. Jadwal sekolah pun tidak seperti sekolah formal tentunya. Rumah Pengetahuan Amartya menggunakan sistem bahan ajar berdasarkan tema ajar yang disusun per bulan. Ketika ditanya mengapa tidak ada kelas di sekolah itu. Eko menjawab bahwa, “Kami menganggap semua anak berpotensi sama. Oleh karena itu tidak ada klasifikasi,” katanya. Dengan jumlah guru yang hanya 27 orang, mereka membentuk kelompok-kelompok belajar yang dimaksudkan untuk melatih kebersamaan dan wawasan organisasi kepada anak-anak didiknya. Anak-anak itu memiliki jadwal sekolah mulai pukul 15.00 – 18.00 wib, dari hari Selasa sampai Minggu. Tiap hari memiliki bahan ajar yang berbeda, antara lain bidang: seni lukis dan drama, sastra, tari, penelitian sosial tingkat dasar, olah raga, dan hari Minggu diisi dengan layanan dokter gratis, serta nonton film berbasis edutainmen.
Sekolah itu direncanakan akan menjadi sekolah dasar gratis di daerah itu pada tahun 2008. Pemerintah daerah setempat menamakan sekolah gratis itu setara dengan kejar paket A. tenaga pengajar sekolah itu berlatar belakang seniman, budayawan, aktivis, dan guru relawan. (Argus Firmansah/wartawan lepas tinggal di Bandung)

Kesaksian Rahmat Jabaril di CCF Bandung

Kesaksian Seniman Pada Kosmologi Hitam Putih
Sapuan kuas dengan cat akrilik pada kanvas-kanvas besar dengan komposisi hitam dan putih menggerayami ruang auditorium dan galeri CCF Bandung pada malam 20 Agustus 2007 kemarin. Pameran berlangsung mulai 20 – 25 Agustus 2007. Rahmat Jabaril yang dikenal dari komunitas seni rupa Gerbong Bawah Tanah Bandung mencoba bicara soal kesemrawutan kosmologi manusia jaman sekarang. Pameran tunggal itu diberi judul Kesaksian. Sebuah teks pengalaman batin Rahmat Jabaril terhadap kosmologi manusia Indonesia yang prihatin terhadap keadaan sosial, politik, dan tatanan kosmologi alam yang rusak. Pada teks pengantar pameran Rahmat Jabaril banyak mengutip teks Shakespeare, Jeremy Holmes, Nietzche, juga Derrida, yang membahasakan kesia-siaan hidup manusia di dalam relasi petanda-petanda. Rahmat dengan teks pinjaman itu mencoba mendramatisir kecemasan dan kegelisahannya yang tertuang di atas sapuan kuas pada kanvas-kanvas dengan nuansa hitam putih. Kemudian teks itu menjadi sebuah rajutan semiotika yang berulang atau bahkan bertumpukan dalam merepresentasikan protes sosialnya sebagai manusia yang terhimpit dalam peradaban metropolis.
Tidak hanya itu. Ia memilih sistem tanda lokal yang disebutnya akar budaya, yaitu kesundaan. Ia juga menyertakan sebuah instalasi yang merepresentasikan sistem religi masyarakat Indonesia pada jaman nenek moyang yang dianggapnya telah ditinggalkan banyak manusia metropolis sekarang ini. Instalasi sistem religi itu ditata sedemikian rupa sehingga membentuk altar dengan meletakkan sebuah lukisan yang bergambar seorang lelaki perut buncit dengan kapak yang telah memporak-porandakan lingkungan alam. Manusia itu disimbolkan sebagai kosmos destroyer pada konstelasi kehidupan alam raya Indonesia. Teks “Kesaksian” yang disuarakan Rahmat Jabaril menukik pada kenyataan-kenyataan yang terjadi dalam gejolak sosiopolitik bangsa Indonesia. Teks keterangan “malam” banyak direpetisi olehnya seolah membuat penegasan atas apa yang ia protes, Revolusi Sosial. Namun muncul sebuah inkonsistensi dari teks-teks visual yang disajikannya, yaitu garis merah darah dan api pada beberapa kanvas dan kertas yang menjadi medium ekspresinya. Nada yang disuarakan memang terkesan miris dan naif dalam menyoal peristiwa reformasi tahun 1998, serta peristiwa politik lainnya di tanah air. Yang dianggap menimbulkan beragam masalah sosial dan politik di tanah air. Anggapan Rahmat itu buan semata tuduhan baginya. Peristiwa-peristiwa kehancuran dan kematian yang terjadi negeri ini menjadi inspirasi puitis untuk direnungkan dan dituangkan ke atas kanvas. Pendapat Wawan Christiawan, yang diwawancara penulis setelah mengapresiasi karya-karya Rahmat Jabaril yang dipamerkan, mengatakan bahwa teks-teks batin Rahmat Jabaril terlihat mengalir dalam karya-karya yang dipamerkan. Memahami sebuah teks realisme sosial, menurut Christiawan, adalah bagaimana kenyataan sosial itu dibahasakan secara visual dan apresiator dapat merasakan cukilan-cukilan peristiwa yang dikesankan melalui garis-garis dengan sapuan kuasnya. Christiawan juga mengomentasi komposisi warna hitam dan putih pada kebanyakan karya sebagai upaya dramatisasi Rahmat Jabaril dalam merepresentasikan pengalaman batinnya ketika melihat kenyataan sosial yang pahit di sekitarnya. Pada karya rupa yang dipamerkan, Christiawan melihat sebuah obsesi dari seorang Rahmat Jabaril, yaitu kecenderungan menjadi aktivis sosial ataukah seniman. “Saya melihat Rahmat Jabaril lebih cenderung sebagai aktivis sosial, ketimbang seniman rupa,” ujar Christiawan. Selain itu ia juga melihat adanya kode ganda atau eufimisme bahwa kenyataan sosial itu adalah ini dengan menyajikan sebuah instalasi sistem religi asli masyarakat Indonesia. Ia juga menyayangkan bau kemenyan yang sangat mengganggu apresiator. “Seniman itu tidak dapat mengubah kenyataan sosial. Seniman hanya merefleksikan kenyataan sosial itu ke dalam gambar-gambar visual, sehingga memberikan inspirasi,” tambah Christiawan. Sementara itu Rahmat Jabaril nemaparkan bahwa instalasi sistem religi masyarakat Indonesia itu disajikan sebagai simbol. Bahwa manusia jaman sekarang sudah meninggalkan akr budayanya, sehingga mereka kehilangan identitas. Dan paradigma itulah yang dianggap Rahmat sebagai katalisator rusaknya tatanan sosial, politik, dan lingkungan alam. Unsur tanah, api dan air, dalam instalasi sistem religi masyarakat Indonesia merupakan teks peringatan kepada semua manusia untuk kembali menemukan akar budayanya. Bicara adat lokal sama dengan membangun relasi dengan paradigma Timur. Namun Rahmat Jabaril justru melakukan peminjaman teks Barat pada wacana pamerannya. Hal ini menjadi janggal kemudian dalam konstelasi wacana Timur. Di satu sisi jabaril mengkritisi impor budaya Barat, sementara ia sendiri menggunakan ide dan gagasan tekstual untuk melengkapi wacana pamerannya. Maka dapat dikatakan, bahwa Jabaril sendiri tergolong ke dalam masyarakat pesakitan yang mengonsumsi budaya Barat dalam proses kreatifnya. Sah saja menggunakan metode adopsi. Akan tetapi pandangan itu menjadi kabur dengan hadirnya teks-teks Barat yang sinyalir diprotes keras oleh Jabaril sebagai momok kapitalisme budaya ke dalam kebudayaan masyarakat Indonesia saat ini. Sehingga hitam putih pun kian jelas; Putih adalah tradisi kearifan lokal (Indonesia) dan Hitam adalah konstelasi kebudayaan Barat. Memang sudah tidak kontekstual membahas Barat dan Timur dalam wacana revolusi kebudayaan atau revolusi apalah yang hendak disuarakan di balik garis dan warna pada kanvas-kanvas yang dipamerkan. Akan tetapi hal ini epnting utnuk disimak dalam melihat konsistensi seorang seniman dalam menyajikan karyanya ke hadapan publik.
Warna yang disajikan oleh rahmat Jabaril tidak hanya nuansa hitam putih saja. Warna lain yang dominant adalah merah; simbol api, nuasa biru, hijau, dan oranye pun muncul pada beberapa karya lainnya. Namun semua itu hanya menjadi pengulangan atau penumpukan pesan protes yang mengalir dalam darah Rahmat Jabaril ketika mengekspresikan pengalaman politisnya di jalanan ke atas kanvasnya hingga dapat diapresiais publik dalam pameran tunggalnya kali ini.
Terlepas dari semua itu, pameran tunggal yang bertajuk “Kesaksian” itu sangat lugas dan tegas menyuarakan kepedihan dan kondisi schizophrenia sang Rahmat Jabaril. Penanda schizophrenia itu nampak jelas pada kesan-kesan yang dimunculkan dari lukisan dan drawing yang dipamerkan Jabaril kali ini. Penulis ingin meninggalkan satu pertanyaan saja kepada sang kreator, yang menggelar diskusi bernuansa politis di dalam jadwal pameran tunggalnya. Apakah seorang Rahmat Jabaril seorang seniman ataukah seornag aktivis social-politik? Dengan meminjam pernyataan Wawan Christiawan pada pembukaan pameran ketika diwawancara, bahwa seniman itu hanya merefleksikan realitas yang dicerapnya melalui pengalaman yang intens ke dalam karya dalam bentuk visual. Seniman bukan “Bapak Pembangunan” yang dapat merobah keadaan dengan karya seninya. Cukuplah bicara dengan karya visual. Merdeka! (Argus Firmansah/wartawan lepas tinggal di Bandung)

Monday, August 20, 2007

Anak Indonesia Masih Dijajah?

Masa Depan Anak Indonesia Masa depan Indonesia ada di pundak generasi penerus bangsa. Merekalah yang akan membangun bangsa ini kelak dengan pengetahuan dan kemampuannya bersaing di dunia global. Membawa bangsa Indonesia dalam percaturan politik, ekonomi, dan kebudayaan bersama bangsa-bangsa lain di panggung dunia. Tanggungjawab generasi penerus bangsa ini bukan main, perlu pembekalan melalui pembelajaran yang matang dan mantap, sehingga tidak tergoyahkan oleh tradisi politik dan kebudayaan yang malas dan korup.
Harapan bangsa ini kepada generasi penerus, yaitu anak-anak Indonesia sungguh besar, akan tetapi harapan itu sekaligus menjadi keraguan tatkala melihat kenyataan saat ini. Yaitu banyak generasi penerus yang tidak mampu mengenyam pendidikan yang layak dan tuntas. Masih banyak generasi penerus yang terlantar di jalanan, di tempat yang tidak semestinya mereka berada. Namun demikian, itulah kenyataan hidup generasi penerus bangsa saat ini. Hidup di bawah terik matahari dan menghirup asap kendaraan setiap harinya. Tidur pun mereka di selasar pertokoan bersama orang tua mereka yang memilih hidup di jalanan.
Pengamen jalanan kini sudah menjadi pilihan mereka yang hidup dalam kemiskinan ekonomi dan kemiskinan pengetahuan. Anak-anak umur belasan tahun secara terpaksa menengadah tangannya di pintu-pintu angkutan kota, di dalam bis kota, bahkan juga di perempatan jalan kota-kota besar di Indonesia. Ada apa dengan kita yang selalu melihat ke atas, melihat kekuasaan hingga terjebak dalam lingkaran politik yang menyesatkan moral? Sering kali kita lupa melihat saudara kita yang hingga saat ini masih mencari nafkah dengan meminta-minta. Dan memang bukan rahasia umum bahwa lembaga-lembaga peneliti swasta sudah pernah mengungkap jaringan pengemis dan pengamen di seluruh kota besar. Sebuah fakta bahwa mereka memang menjadikan pengemis dan pengamen sebagai profesi untuk menopang kebutuhan hidup keluarganya. Tak heran bila banyak anak-anak di bawah umur 10 tahun banyak yang jadi pengamen di perempatan jalan, karena dorongan orang tua mereka sendiri.
Cermin sosial masyarakat miskin ini juga banyak yang dimanfaatkan oleh sekelompok individu untuk meraih keuntungan dengan mengeksploitasi anak-anak. Tapi, siapa yang mampu bertindak dan menyelesaikan masalah sosial ini? Seolah-olah tidak ada instrumen hukum yang mengatur hak hidup anak dan melindungi mereka dari tindak kekerasan, eksploitasi, dan kriminalitas. Alasan keluarga miskin kota yang berasal dari daerah kabupaten umumnya mengatakan keterbatasan ekonomi, sehingga mereka mendorong anak-anak mereka sendiri untuk belajar mencari nafkah sejak dini. Pendidikan yang layak, untuk beberapa keluarga miskin kota, masih jauh dari jangkauan ekonomi mereka. Apalagi setelah meneliti budaya lokal suatu masyarakat di Jawa Barat, seperti di pedalaman Cirebon, Majalengka, Indramayu, Garut, dan daerah kabupaten lainnya. Sebuah keluarga yang memiliki anak perempuan dianggap sebagai aset/modal keluarga. Modal untuk usaha meningkatkan perekonomian.
Caranya ada bermacam-macam, misalnya trafficking dan prostitusi remaja. Tidak sedikit anak-anak perempuan berumur belasan tahun sudah menjadi janda berkali-kali di pedalaman Kabupaten Indramayu, karena sebuah mitos lokal, yaitu pantangan menolak lamaran pertama. Berawal jadi janda muda, mereka dituntut memenuhi kebutuhan anak-anak mereka. Maka menjadi penari sensual, bahkan prostitusi pun menjadi pilihan mudah untuk dilakukan. Hal inilah yang menyebabkan angka pelacuran remaja di kota-kota besar terus meningkat. Banyak anak-anak yang saya temui di jalan-jalan, khususnya di kota-kota besar dan daerah kabupaten di tanah air ini. Mereka yang hidup di jalan itu diciptakan oleh orang tua mereka sendiri. Karena tidak ada pilihan lain untuk dilakukan, maka prostitusi atau mengamen di jalan dianggap satu-satunya jalan untuk bertahan hidup.
Anak-anak sudah menjadi komoditi terselubung bagi pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Perdagangan anak dengan modus penculikan, kriminalitas, kian ramai di media massa. Saya kira peran orang tua dalm mendidik anak-anaknya mesti diperhatikan benar. Juga peran serta masyarakat di lingkungan sekitarnya juga mesti ditingkatkan. Mengapa? Karena pilar pendidikan keluarga adalah pendekatan yang paling tepat dalam menjaga masa depan anak bangsa. Termasuk juga membimbing anak-anak terhadap tontonan di televisi, baik hiburan (sinema elektronik maupun film), juga pemberitaan kriminalitas khususnya. Saya masih menyayangkan manajemen televisi dalam menayangkan sejumlah programnya yang mementingkan nilai ekonomi perusahaan ketimbang nilai edukasi pada program-programnya. Media massa, pers, dapat juga berperan untuk mendorong masa depan anak melalui sejumlah tayangan yang berbasis edutainment.
Pemberdayaan anak yang dilakukan lembaga swadaya masyarakat pun masih belum dapat menurunkan angka prostitusi dan pekerja di bawah umur. Sebab tuntutan ekonomi keluarga mereka lebih besar ketimbang mengikuti proses pembelajaran yang layak. Dan saya kira peran serta pemerintah pusat dan daerah masih belum signifikan dalam menangani masalah anak di tanah air. Dibutuhkan komitmen yang nyata dalam menyelesaikan masalah anak, sehingga angka kekerasan di masyarakat dan kriminalitas di mana anak yang menjadi korban dapat direduksi.
Program homeschooling sudah banyak tumbuh dan berkembang sebagai institusi alternatif bagi pendidikan anak. Namun demikian sistem belajar di rumah secara mandiri belum tersentuh keluarga miskin di kota. Karena biaya pendidikan homeschooling masih tergolong mahal dengan kualitas yang bagus. Apa yang dilakukan keluarga miskin dengan mendorong anaknya bekerja juga dapat dikatakan sebagai program pendidikan mandiri di keluarganya, akan tetapi bekal pengetahuan yang mumpuni tidak dimiliki keluarga miskin itu. Sehingga dampak sosialnya lebih cenderung negatif, karena mendidik anak belajar kekerasan di jalan. Padahal perkembangan psikologi anak belum cukup untuk menyerap realitas hidup. Imajinasi anak pun lenyap di jalan. Dan hal ini juga mereduksi potensi kreatif anak dalam perkembangan mentalnya. Lebih banyak kekerasan yang dipelajari anak selama berada di jalan.
Dapat diamati kehidupan sebuah keluarga miskin yang hidup di jalan. Tidur di selasar pertokoan. Setiap hari menghirup asap kendaraan bermotor. Makan dan minum di sana. Dan setiap hari pula dihadapkan pada kondisi serba kekurangan. Hanya jalanan yang mendidik mereka tumbuh dewasa. Seorang anak kecil dipaksa menghadapi kenyataan keras, bahwa untuk memperoleh makanan atau jajanan mereka harus meminta-minta di trotoar jalan, atau menyanyikan lagu-lagu dewasa yang belum tentu mereka mengerti.
Bagaimana kesehatan sang bayi dapat diperoleh ketika sang ibunda makan dengan menu seadanya, bahkan kadang makan sehari dalam sehari. Tentunya kualitas air susu ibu yang diminumnya tidak mengandung gizi seimbang yang dibutuhkan oleh tubuh bayi. Siklus hidup ini terus berlangsung hingga ia menginjak usia remaja dan dewasa. Maka tidak mengherankan apabila karakter anak menjadi keras atau agak liar. Sebab mereka tidak mengenyam pendidikan soal etika, pemahaman benar dan salah, mana yang baik dan mana yang kurang baik. Kecenderungan besar untuk melakukan kriminalitas atau kekerasan sangat potensial untuk mempertahankan hidup mereka.
Betapa menyedihkan kondisi masyarakat Indonesia yang demikian itu. Sementara kita semua tahu tanah air ini memiliki kekayaan yang melimpah, sampai-sampai kekayaan itu menjadi milik orang asing. Dan generasi penerus sendiri tidak menikmati kekayaan itu. Justru mereka harus selalu berhadapan dengan lapangan pekerjaan yang sempit ketika mereka dewasa. Atau pilihan jalan pintas dengan mencopet, mengutil, premanisme.
Solusi yang paling efektif adalah peningkatan ekonomi mikro yang melibatkan keluarga miskin sebagai subjeknya. Karena dengan kesejahteraan ekonomi keluarga miskin pendidikan yang layak bagi anak-anak miskin dapat terwujud. Solusi kedua adalah fasilitas kesehatan gratis untuk keluarga miskin. Misalnya rumah sakit gratis khusus keluarga miskin, serta rumah konsultasi anak yang digratiskan untuk keluarga miskin di kabupaten dan kota. Dan yang ketiga adalah sarana pendidikan gratis yang sama kualitasnya dengan sekolah atau lembaga pendidikan yang terakreditasi sangat baik kulaitasnya. Kesehatan jasmani anak sangat mempengaruhi perkembangan tubuhnya, sedangkan kesehatan ruhani mempengaruhi perkembangan psikologi mereka untuk tumbuh menjadi remaja yang kreatif dan memiliki mental yang kuat.
Saya kira pemerintah dapat menyusun anggaran untuk keluarga miskin yang berbasis pemberdayaan anak. Dan tidak hanya mementingkan kepentingan politik golonga, partai, atau kerabat dekat penguasa di bidang ekonomi. Program ini saya yakin dapat mengurangi kemiskinan pengetahuan bagi anak-anak, walaupun tingkat pendidikan orang tuanya sebatas pendidikan dasar. Di sinilah kesadaran masyarakat dan pemerintah terhadap hak anak dapat diwujudkan dalam rangka membangun masyarakat dan bangsa Indonesia yang lebih baik. Masyarakat dengan kemampuan ekonomi tinggi dapat berperan aktif sebagai pengawas pelaksanaan program pemberdayaan keluarga miskin ini, selain bertindak sebagai funding father. Marilah kita sama-sama memperhatikan hak hidup layak bagi anak-anak Indonesia untuk masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik. (Argus Firmansah, wartawan lepas tinggal di Bandung)