Thursday, July 26, 2007

Drama Legenda Jakabandung di GK Sunan Ambu, Bandung

Mitos Erotisme dalam Lakon Drama Jakabandung
Sebuah pertunjukan berdurasi 150 menit ini cukup melelahkan untuk diapresiasi. Apalagi dengan banyaknya jeda dengan perubahan setting peristiwa pentas. Tatang R. Macan menjadi sutradara pertunjukan Kidung Jakabandung yang digelar di GK Sunan Ambu, STSI Bandung, pada tanggal 24-25 Juli kemarin. Pertunjukan yang diambil dari legenda Danau Bandung ini memang syarat dengan kearifan lokal. Mitologi menjadi inspirasi kreatif dalam mencipta sebuah pertunjukan drama dengan nuansa tradisi yang cukup menggugah masyarakat Bandung menyoal legenda dan mitologi Danau Bandung. Alkisah, Lahar Burangrang telah menyumbat Citarum di Sanghyang Tikoro (tempat mengalirnya sungai Citarum ke bawah gunung di bagian barat Danau Bandung - Batujajar). Akibat pertempuran Gangga (penguasa air) dan Argapati (penguasa gunung), daratan Parahyangan berubah menjadi telaga yang disebut Danau Bandung. Danau yang besar bagi keturunan Sang Gangga telah menjadi bencana. Turunan Sang Gangga memilih jalan bertapa, agar pertempuran Gangga dengan Argapati, sekaligus bencana, dapat diakhiri. Pertapaan mereka disetujui Sunan Ambu, sebab perkawinan Nyi Badra (turunan Gangga) dengan Raja Darmika (turunan Argapati) telah memberi jalan berakhirnya permusuhan. Restu Sunan Ambu ditandai dengan turunnya syarat, yaitu harus memiliki keturunan laki-laki dan diberi nama Jakabandung. Jakabandung-lah yang sanggup membuka sumbatan Sanghyang Tikoro. Pertunjukan ini dikemas seperti repertoar drama kolosal dengan pola pengadegan wayang orang. Pertunjukan drama Kidung Jakabandung ini merupakan upaya kreatif Tatang R Macan sebagai sutradara dalam membuka peta ingatan masyarakat Bandung dalam hal sejarah nenek moyangnya. Di mana cukilan teks-teks sejarah - legenda ”Danau Bandung” - ditransformasikan ke dalam bentuk yang artistik di pentas, baik dari kostum pemain, gaya pembawaan perannya (akting), musik, penataan pentas, penataan lampu, serta multimedia. Bahasa visual cukup menarik diapresiasi, seolah membawa kesadaran penonton ke jaman dahulu kala. Akan tetapi bahasa masih menjadi kendala komunikasi, yaitu ujaran bahasa Sunda dari pemain yang tidak ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Pertunjukan ini memang digarap secara agak kurang serius oleh sang sutradara, namun pertunjukan malam kedua gangguan komunikasi masih terjadi. Yaitu, penyajian gambar-gambar yang ditembak ke layar belakang panggung terlihat tidak relevan. Lanskap pabrik dan pekerja industri pada jaman modern dengan subjek orang asing jelas mengganggu imajinasi penonton pada adegan-adegan dengan konteks waktu jaman purba. Hal lain adalah kekakuan para pemain dalam membawakan perannya masing-masing. Maka pertunjukan pun jadi terkesan main-main, mirip pergelaran Srimulat, namun tetap saja tidak menimbulkan kelucuan yang mengundang tawa. Salah seorang penata yang terlibat dalam garapan tersebut mengatakan kepada saya pada malam kedua (25/7) usai pertunjukan, bahwa pertunjukan malam kedua, para pemainnya diberi kebebasan karena pertunjukan tersebut sudah diujikan (dalam Program Ujian Pascasarjana, ISI Yogyakarta - penulis). Hal ini sangat disayangkan karena penonton tidak mau tahu tujuan dari pertunjukan tersebut, sementara mereka sudah membeli tiket dan beberapa diundang untuk mengapresiasi. Dengan demikian, penggarap pertunjukan terlihat tidak profesional dalam menyajikan tontonan kepada publik – penonton. Pertunjukan Kidung Jakabandung memang merupakan tafsir sutradara ke dalam bahasa pertunjukan. Hal inilah yang memberi ruang kreatif bebas bagi sutardara sebagai seniman setelah melakukan penghayatan terhadap naskah Sangkuriang karya Utuy Tatang Sontani dan naskah Jakabandung yang ditulis oleh M.A. Salmun. Tatang R Macan dalam pengantar pertunjukan menyatakan bahwa, keinginan untuk melakukan pembacaan ulang terhadap kosmologi, daya religi, mitologi dan entitas manusia merupakan sebuah bentuk pencarian secara ilmiah dalam menciptakan lakon. Hal ini menjadikannya sebuah eksperimen yang perlu diperhitungkan, bagaimana pemahaman terhadap legenda masyarakat diperoleh pelurusan tafsir dengan falsafah Sunda tentang pencarian jati diri Jakabandung. Pengembaraan tokoh dalam mengkaji diri, dari ketidaktahuan menuju tahu, dari antagonistik menuju harmonisasi sosial-spiritual, dan dari amarah menuju pencerahan. Latar belakang inilah yang menjadi konsep pengembaraan Jakabandung (Harya Prabu) direpresentasikan ke dalam bentuk pertunjukan. Pengembaraan Jakabandung di pentas dibuat sangat manusiawi oleh sutradara. Dalam pertapaannya, Jakabandung mendapat godaan erotika, dimana wujud godaan itu dikemas dengan penghadiran perempuan-perempuan seksi yang syarat dengan gerak erotis (diperankan oleh Rina Bello, Linda Tasriani, Nendah Herawati, Mala T, Nurfitriani Fadzriah, Dewi Lestari). “Ini bukanlah erotis…ini adalah ritual,” ujar salah seorang penari yang berperan sebagai penggoda dalam adegan pertapaan Jakabandung. Adegan itu menjelaskan bahwa tradisi budaya Jawa Barat selalu terkait dengan gerakan erotis perempuan. Perempuan diposisikan sebagai seduction (rayuan) oleh sutradara. Adegan ini juga menjadi semacam otokritik kepada masyarakat Bandung sekarang, bahwa perempuan sang pemilik erotisme selalu menjadi penggoda bagi laki-laki. Wacana gender dalam pertunjukan ini memposisikan perempuan sebagai seduction. Sisi manusiawinya, Jakabandung memang tergoda oleh seorang perempuan yang bernama Arcamanik (Lala M Dara). Perempuan dengan penyakit kulit yang menjijikan. Dan kecantikan dari Arcamanik dipulihkan oleh Jakabandung di atas perahu dengan memandikannya dengan air ramuan, sehingga bau busuk dari penyakit Arcamanik jadi lenyap. Pertentangan Rakyat Guriang (Latif Prayitna, Abdhiana, Asep Holidin, Wanggi, Afrizal, Rasyadin, Wail, Dian Remeh) terhadap tindakan Jakabandung yang tergoda oleh Arcamanik jelas muncul, akan tetapi tindakan itu direstui oleh Aki Rahiang Anjun (Rusman Nurdin).
Pertentangan, antagonistik, berlanjut dengan pertempuran Jakabandung dengan tentara penguasa gunung, yang hadir dengan boneka-boneka raksasa berwajah binatang. Hingga akhirnya Jakabandung memenangkan pertempuran itu. Sangat disayangkan pertunjukan drama legenda ini tidak tergarap secara rinci dengan kemasan pertunjukan yang apik. Sehingga sajian yang diapresiasi penonton tidak fokus pada esensi pesan dari tema pertunjukan yang diusung oleh penggarap. Beberapa penonton juga menyatakan rasa kurang puasnya setelah menonton pertunjukan Kidung Jakabandung itu. Hampir semua penonton hanya tertarik pada salah satu adegan saja. Yaitu adegan Jakabandung digoda, dirayu oleh perempuan-perampuan seksi yang tampil dengan gerak tari erotisnya. Perempuan-perempuan (penari) tampil dengan pose-pose menantang birahi laki-laki, terlebih dengan pakaian dalamnya (baju tidur masa kini) yang warna merah, kuning dan biru yang menyala itu. (Argus Firmansah/Kontributor Bandung/ Mingguan Jurnal Nasional, 4 Agustus 2007).

1 comment:

Rhoma dwi Aria Yuliantri said...

wah..apikkk tenan. Jadi iri ki :0